This I Promise You (Confession of A friend – special part)

Standar

This I Promise You

(Confession of A friend – special part)


Tak ada kepastian dari hubungan kami, entah apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya mengerti ?


Aku mengamati pria dihadapanku, sedang asyik mengunyah makannya hingga tak sadar kalau sedang ku perhatikan.

Jika kalian bertanya siapa dia ? Dengan lantang ku jawab bahwa ia adalah sahabatku, sekaligus pria yang ku cinta—secara diam diam tentunya.

Tapi tahukah kalian,tanpa perlu ku sembunyikan lagi semua orang tahu aku menyukainya, mencintainya dan semua orang bilang bahwa dia merasakan hal yang sama…

Aku tak mau mengambil keputusan secepat itu, aku takut aku hanya berharap, berharap tentang hal yang tak pasti ku dapatkan.

Terjatuh, aku pernah mengalaminya dan aku tak mau merasakannya lagi, terlalu sakit dan perih.

Apakah dia juga merasakan hal yang sama ? Who knows ? Banyak yang mengatakan hal itu namun pengakuan itu tak kunjung keluar dari bibirnya.

Aku tahu kami berbeda, bahkan dunia kami berbeda. Gemerlap panggung adalah dunianya dan sedangkan aku hanya terkurung dalam dunia sederhana namun jelas membuatku sangat nyaman.

Jangan tanyakan bagaimana aku bisa jatuh cinta pada orang yang kepribadiannya bertolak belakang denganku, meskipun aku tahu perbedaan itu indah hanya saja terkadang hatiku sulit menerima keadaan itu.

Jangan tanyakan mengapa aku masih mau bertahan dengan ketidakpastian yang dia berikan padaku, meskipun sisi lain dalam hatiku mengatakan bahwa kami saling mencintai.

Senyumnya, alasan mengapa aku tak pernah mengalihkan pandanganku darinya sedikitpun.Senyum yang sering diperlihatkan diatas pentas, yang membuat banyak wanita jatuh hati padanya.Senyum yang membuatku ikut tersenyum ketika melihatnya, ya senyumnya itu.

Suaranya, yang selalu membuatku berdebar walau itu hanya sekedar deheman singkat, keluhan atau dengus kesal ketika berdebat dan bermain game denganku.Suara yang selalu membuaiku setiap malam lewat sambungan telepon, suara yang menjadi alasan mengapa ia ditempatkan sebagai main vocal dalam grupnya.

Sifat jahilnya tak henti-hentinya membuatku terperangah kesal ataupun tertawa, dia bukan orang yang masuk ke dalam lingkungan baru, setidaknya itulah persamaan kami, dia lebih suka berkutat dengan barang-barang elektronik dihadapannya, mengasah otak dengan memikirkan strategi agar bisa menang dan mengalahkan musuh.Dia bukan orang yang suka kalah dan mengalah…

Terlalu banyak hal yang membuatku tak bisa lepas darinya, dan terlalu panjang  jika ku jabarkan…

“Kenapa makanannya gak dihabisin ? Gak enak ?” suaranya menyadarkanku dari lamunan.

Ia meraih garpu dan menyuapi ku sepotong wortel dari piringnya, aku tahu itu hanya alasan agar piringnya bersih dari sayur yang dia benci.

“Gak mau” tolakku menjauhkan diri dari garpu yang dipegangnya.

“Sayur itu baik untuk kesehatan dan pertumbuhan, biar kamu cepat tinggi” tukasnya.

Alasan yang selalu dikatakannya jika aku menolak untuk makan.Perbedaan fisik, sangat jauh…kulit, mata, tinggi bahkan kewarganegaraan.

“Sayur itu baik untuk kecantikan, biar kamu gak jerawatan” balasku terkekeh.

Dia memicingkan mata kearahku dan menggembungkan pipinya, marah…tapi aku tahu itu hanya pura-pura.

“Biasakan untuk memanggilku dengan sebutan ‘oppa’, gadis kecil”

Apakah aku tadi sudah mengatakan bahwa perbedaan umur kami jauh ? 5 tahun, tapi sebutan ‘oppa’ tak pernah kusematkan padanya, aku selalu merasa bahwa umur kami sama dan tak terpaut jauh.

“O-pp-a!” sebutku dengan nada yang dibuat-buat.

Dia mengangguk puas, menampilkan ekspresi yang sangat ku sukai, kemenangan…

****

Kami berjalan keluar dari restoran, malam ini sedikit dingin karena salju masih turun dari langit.Aku suka keheningan malam dengan salju, namun tidak dengan tubuhku yang rentan dengan cuaca dingin.

Merasakan sesuatu yang hangat menyelimutiku,sesuatu yang halus dan wangi…

“Terus oppa pake apa ?” melihatnya menyampirkan mantelnya padaku, membuatku sangat khawatir.

“Aku kan kuat” sombongnya, aku tahu dia tak sekuat itu…

Dia paling tahu cara membuatku khawatir meski hanya dengan perkataan bahwa dia pria yang kuat.Masih terlintas jelas dalam benakku ketika dia terbaring lemah dirumah sakit karena kelelahan, jadwal yang begitu padat membuatnya tak banyak mendapatkan banyak waktu untuk beristirahat.

“Tunggu disini” ujarku lalu berlari kearah kedai kopi, memesan caffee latte dan moccacino sambil berhati-hati membawanya.

“Supaya gak kedinginan” Ia mengambil caffee latte dari tanganku, kami duduk dibawah sinar lampu jalan dan mengamati setiap orang yang lewat.

Aku mendesah napas panjang dan pelan, setiap orang yang melihat kami pasti menyangka kami adalah sepasang kekasih, padahal sebenarnya kami hanya sebatas teman dekat.

Sepasang kekasih ? Tidak, aku ingin lebih dari itu…Aku orang yang gampang trauma, meskipun tak pernah mengalaminya sendiri tapi aku banyak melihat orang-orang disekelilingku patah hati.

Aku ingin sesuatu yang lebih abadi dari sebuah pernyataan ‘be my girl’, kalian pasti tahu apa…

Memang terkesan mimpi, tapi aku ingin pria disampingku ini mengucapkan pengakuan…

Pengakuan bahwa ia ingin menjadikanku sebagai pendamping hidupnya untuk selamanya, tapi aku sadar itu tak mungkin terjadi…

“Lusa…sungmin oppa menikah…” gumamku pelan.

Desahan berat terdengar, “Ya” jawabnya singkat.

“Mianhe…” tak seharusnya aku membicarakan hal ini padanya, dia dan sungmin oppa bagaikan saudara kandung.Aku tahu betapa berharganya sungmin oppa baginya dan begitu pula sebaliknya.Aku pernah merasakan perasaan berat merelakan orang terdekat kita kini menjadi milik orang lain, teman-temanku satu persatu telah menikah bahkan mereka telah merasakan kesempurnaan menjadi seorang wanita, menjadi seorang ibu.

Tangannya menyentuh rambutku dengan lembut, “Jangan berekspresi begitu, gak salah kenapa harus minta maaf…

Toh akhirnya nanti kita juga akan seperti sungmin hyung, menikah dan memiliki keluarga sendiri.Dan disaat itu, kita harus merelakan orang-orang terdekat kita menjadi milik orang lain…” sambungnya lagi.

Kalau aku jadi milik orang lain apa oppa rela ? Ingin rasanya melontarkan pertanyaan itu, namun kurasa aku tahu jawabannya.

Kamu juga akan seperti onniemu, memiliki keluarga sendiri, kalau sudah punya calon suami jangan lupa beritahu oppa, araci ?”

Mencelos, ya hatiku mencelos mendengar perkataannya.Bagaimana aku bisa memberitahunya kalau orang yang ku harapkan menjadi suamiku adalah dia ?

Ne, oppa juga kalau sudah menemukan wanita yang tepat, aku orang pertama yang harus tahu!” dia mengangguk mantap dan tersenym, “pasti”

Mungkinkah ini jawaban atas penantianku selama ini ?

Kita pulang sekarang ya oppa ?” pintaku lirih.Aku butuh kesendirian untuk melampiaskan kesedihanku, airmataku tak bisa ku bendung lebih lama lagi…

Terlalu menyakitkan ketika mengetahui kenyataan ini, ternyata selama ini aku telah berharap banyak darinya.Kalau tidak,mnengapa hatiku begitu sakit sekarang ?

Malam itu, hatiku membeku sama seperti dedaunan yang tertimbun salju.Dingin, dan segera mati.

****

Kosong,

Tak ada lagi senyum itu dalam benak dan hari-hariku semenjak kejadian malam itu aku menghindarinya dan tampaknya dia ditelan kesibukannya diatas panggung.

Malam ini aku memandangin sungai han yang terhampar jelas dihadapanku, tenang…

Besok, pernikahan sungmin oppa…Aku hanya akan datang saat resepsi berlangsung.Aku tak mau ikut dalam upacara pernikahan.Tak sanggup berada disana berlama-lama sehingga bisa bertemu dengannya.Hanya akan membuatku semakin tersiksa.Aku akan terus berusaha untuk tidak membiarkan perasaanku padanya semakin tertanam dan bertumbuh subur.

Mulai sekarang aku harus realistis, kalau memang dia tak ditakdirkan untukku lalu untuk apa aku masih mengharapkannya ?

Aku tahu akan sulit, tapi tak ada salahnya aku mencoba bukan ?

****

Pernikahan sungmin oppa diadakan di villanya, tepat dihalaman belakang rumahnya yang luas.Aku datang sendirian karena onniedeul sudah pergi dari pagi untuk menghadiri upacara pernikahan.

Tadi pagi dia mengirimkanku sebuah gaun berwarna putih dengan pesan bahwa aku harus memakainya di pesta ini.

Aku menolak, aku memilih mengenakan gaun merah marun off shoulder.Sejujurnya aku benci gaun dengan model ini.Tapi hanya ini satu-satunya gaun yang ku temukan dilemari milik salah satu temanku.

“Kenapa gaunnya gak dipakai ?” aku membeku mendengar suara itu dan menoleh sedikit, “Aku gak suka” ujarku mempercepat langkahku menghilang dibalik kerumunan.

****

Pesta semakin meriah dan semakin banyak tamu yang datang, membuatku harus mengasingkan diri dari mereka dan tentu saja menghindar darinya.Aku berusaha mencari tempat yang lebih hangat,meskipun matahari bersinar hari ini tapi tetap saja hawanya menusuk kulitku.

Tiba-tiba sebuah tangan mencengkramku erat dan menyeretku ke tempat yang lebih sepi, aku terlalu kaget untuk melihat siapa yang memperlakukanku dengan kasar.Dia menghempaskanku ke dinding, dan kini aku bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, “Kenapa menghindariku ?” desisnya.

Aku mengalihkan pandanganku darinya dan berusaha pergi namun posisinya sama sekali tak menguntungkan bagiku.Dia memojokkanku ke dinding dan kedua tangannya tertempel sehingga menyulitkanku untuk bergerak.

Aku tanya kenapa menghindar ?!” tanyanya kali ini terkesan geram.

Bukan urusanmu” jawabku datar, “Minggir

Dia tetap tak bergeming, “Tidak sebelum pertanyaanku dijawab

Bukannya tadi sudah ku jawab ?” dengusku kesal.Matanya memperhatikanku dari atas hingga bawah, membuatku merasa sangat tidak nayaman, “Gaunmu jelek” cibirnya

Lalu ? Apa pedulimu ?” balasku tak kalah sinis, menampik tangannya kasar dan berniat pergi namun lagi-lagi tangannya mencengkram lenganku.Dia menyampirkan jasnya dibahuku lalu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.

Aku melepas jas itu dan melemparnya dengan kasar ke tanah, “Bodoh!” mataku terasa hangat, menangis lagi. “Berhentilah menangis gadis bodoh, perhatian ini hanya karena dia menganggapmu sebagai sahabatnya dan tak lebih!” batinku.

****

Berhentilah memberikanku harapan palsu, aku benci itu…Kau hanya menganggapku sebagai sahabat dan selamanya akan begitu.

Kata-kata itu selalu ku sematkan dalam otakku setiap kali pesan darinya memenuhi inboxku atau setiap kali dia datang ke apartemenku meski hanya untuk melihat keadaanku.

Aku sudah terlalu lelah menanti pengakuan itu,sama saja seperti aku sedang berharap sesuatu hal yang tak pernah ku dapatkan.Kami berbeda, dan perbedaan itu tak bisa dihilangkan maupun disatukan.

Melepaskannya adalah satu-satunya jalan terbaik, bukan berarti melupakannya karena aku yakin takkan semudah itu melupakan seseorang yang selalu mengisi otakmu. “Hei, buka pintunya!” gedoran keras dipintu membuatku hampir menjatuhkan ponselku.

Ada apa oppa ?” Shindong oppa terlihat begitu panik dan terengah-engah didepan pintu.

Dia…dia…Bocah itu…” aku tahu siapa yang dimaksudkan dengan ‘Bocah itu’, mendadak perasaanku tak tenang karena ini bukanlah pertanda baik.

Kenapa oppa ? Cepat bilang!!!” paksaku berusaha untuk terlihat tenang namun gagal.

Sebaiknya ikut aku sekarang!” Shindong oppa menarikku cepat sebelum aku sempat mengambil jaket dan ponselku, bahkan apartemenku ku kunci dengan buru-buru.

“Palliwaa!!” teriak Shindong oppa panik.Kami menunggu didepan lift dengan tidak sabar, aku melirik shindong oppa yang begitu panik, membuatku ikut meraskan hal yang sama.Tanganku dingin dan memucat dan debaran jantungku semakin tak karuan, “Oppa pakai tangga darurat aja!

Aku menarik Shindong oppa, berlari menuruni tangga dari lantai 5 ke lobi, bagiku ini bukanlah hal yang sulit namun bagi Shindong oppa ini sama saja menyuruhnya untuk diet.

Oppa cepaaat!!” kali ini aku yang berteriak panik ketika melihatnya terengah-engah di depan lobi sedangkan aku sudah sampai didekat mobilnya.

Dalam perjalanan tak henti-hentinya aku meremas tanganku dengan khawatir, Shindong oppa memacu mobil dengan sangat kahu dan aku tak melarangnya.Pikiranku hanya tertuju pada satu hal, sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Ponselku tertinggal diapartment sehingga aku tak bisa menghubungi Sungmin oppa,setahuku mereka berencana mengadakan party didorm. dalam hati aku terus mengucap do’a dan memejamkan mata berharap dia baik-baik saja.Kejadian tahun 2007 silam terbesit dibenakku membuat mataku berair.

Jangan lagi ku mohon Tuhan, sudah cukup bagiku melihatnya terkapar dengan tubuh yang terpasang bermacam-macam alat.Aku merutuki kebodohanku yang menghindarinya selama beberapa hari ini, pasti dia sangat membutuhkan seseorang disampingnya.Pabo! Paboooo!!!

Kita sudah sampai”

Tunggu dulu, ini kan villanya Sungmin Oppa ? Aku menatap Shindong oppa heran dan menyipitkan mata. “Cepat!Tunggu apalagi, waktunya gak banyak!!” perintahnya membuatku segera berlari keluar dari mobil.

Mana dia?!” pekikku sangat panik karena tak menemukannya dikamar manapun hingga akhirnya aku mendengar suara gaduh ditaman belakang, Ya Tuhan jangan-jangan dia…

BANG!

Dia berdiri didepanku dan berpura-pura menembakku dengan kembang api yang dipegangnya dan oppadeul tertawa melihatku terkejut.

APA-APAAN INI ?! Lalu kecemasan dan kekhawatiranku tadi untuk siapa ?! Untuk apa ?! Aku mengigit bibir bawahku menahan marah, aku benci kejutan ini.Dan dia sangat tahu itu, dengan gampangnya ia tertawa dihadapanku sedangkan selama diapartemen hingga kemari jantungku berdebar tak karuan, pikiranku hanya terpaku padanya, khawatir dan sesak nafas.

Kalau gak dikerjain begini kamu gak bakal mau datang kan ?” katanya santai menampakkan senyum evilnya.

Aku tertawa sinis, “Kau pikir ini lucu ?” suaraku bergetar menahan marah membuat semua orang melihat kearah kami.

Dia mendekatiku berusaha menenangkanku yang kini hampir menangis, tak perduli oppadeul dan onniedeul yang kini saling berbisik dan menyikut. “Mianhe…” ujarnya berusaha menyentuhku namun ku tepis dengan sangat kasar, “Jangan sentuh aku

Aku tahu aku salah, tapi ini satu-satunya cara membawamu kesini karena aku tahu kamu menghindar dariku

Senyuman sinis kini menghiasi wajahku, “Tahukah bagaimana aku sangat khawatir ? Tahukah seberapa paniknya aku ketika Shindong oppa datang menggedor-gedor pintuku seperti orang kesetanan ? Aku SANGAT TAKUT DAN KHAWATIR ! Aku bahkan hampir mati karena detak jantungku yang tidak karuan! Dan semua ini hanya karena sebuah ‘KEJUTAN’ yang sangat membuatku terlihat seperti orang bodoh!Aku benci dengan KEJUTAN ini” bentakku kesal.

Haiiish…” keluhku ketika pertahananku runtuh dan mulai menangis, biarkan aku sudah lelah menahan semua kekesalan dan kesedihanku selama ini.Aku tak sekuat yang mereka bayangkan, aku juga akan menangis jika merasa tersakiti.

Dia memapahku duduk, namun ku tepis karena masih kesal dengan tingkahnya. “Sudah, sudah ayo lanjut main kembang apinya” Leeteuk oppa berusaha mengembalikan keadaan seperti tadi.

****

Sekarang, aku duduk sambil menyandarkan kepalaku diatas meja kayu…Hanya memandangi Sungmin, Shindong dan Siwon oppa yang memainkan kembang api dengan gerakan yang sama dan berulang-ulang dan hanya membuatku pusing. Disampingku, dia juga duduk dalam diam, mengambil ponselnya dan memotret tingkah hyung-hyungnya.

Aku masih marah, meskipun dalam hati merasa lega karena tak terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Pakai ini” ujar Ryeowook oppa menyelimuti ku dengan selimut tebal dan hangat, ya ini lah yang ku butuhkan…Kehangatan. “Gomawo” ujarku lemah tanpa mengangkat kepalaku dari atas meja.

Desahan berat terdengar darinya membuatku mencuri pandang kearahnya.Dia memainkan ponsel itu sembarangan tanpa menutup flipnya lalu meletakkannya tepat dihadapanku.

Mataku terbelalak melihat gambar yang ada diponsel itu, dan refleks bangun.A—ap-a maksudnya itu.Dia berdehem pelan, menarik ponselnya kembali dan memasang earphone ditelinga kanannya.Aku menerima sebelah earphone yang diserahkan padaku dengan tatapan curiga, jangan bilang dia akan mengusiliku lagi.

Tepat setelah aku memakainya, dia menekan sebuah tombol dan sebuah intro lagu mengalun lembut…Aku terdiam sesaat dan dia tersenyum penuh kemenangan, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.Bibirnya bergerak  dan mulai menyanyikan lagu yang sangat aku kenal itu.

When the visions around you,

Bring tears in your eyes,

And all that surround you,

Are secrets and lies

I’ll be your strength,

I’ll give you hope,

Keeping your faith when it’s gone

The one you should call,

Was standing here all along..

And I will take

You in my arms

And hold you right where you belong

Till the day my life is through

This I promise you, This I promise you


I’ve loved you forever,

In lifetimes before

And I promise you never…

Will you hurt anymore

I give you my word

I give you my heart (give you my heart)

This is a battle we’ve won

And with this vow,

Forever has now begun…

Just close your eyes (close your eyes)

Each loving day (each loving day)

I know this feeling won’t go away (no..)

Till the day my life is through

This I promise you... This I promise you..


Over and over I fall (over and over I fall)

When I hear you call

Without you in my life baby

I just wouldn’t be living at all…

And I will take (I will take you in my arms)

You in my arms

And hold you right where you belong (right where you belong)

Till the day my life is through

This I promise you baby

Just close your eyes

Each loving day (each loving day)

I know this feeling won’t go away (no..)

Every word I say is true

This I promise you

Every word I say is true

This I promise you…Ooh, I promise you…


This I promise you yang diaransemen ulang dan dinyanyikan kembali olehnya tepat dihadapanku membuatku terdiam.Dia meraih ponselnya diatas meja dan menunjukkanku foto yang tadi diambilnya.Gerakan Sungmin, Shindong dan Siwon oppa memainkan kembang api itu membentuk kata I ♥ U jika dipotret.

Dia menggaruk tengkuknya yang ku yakin tidak gatal, “Aku memang bukan pria romantis…aku juga bukan pria yang sensitif, kejadian beberapa hari yang lalu membuatku sadar bahwa aku…bodoh” aku menahan tawaku, dan dia melanjutkan kata-katanya lagi, “Would you…”

‘Be my girl’ batinku lirih. Memang terdengar tak bersyukur karena bukan kata-kata itu yang ingin ku dengar darinya…

Marry me ?” ucapnya pelan.

APA ?!” pekikku kaget membuatnya terlonjak kaget,

Ah ani, maksudku yah…Aku kan yah bagaimana caranya bilangnya yah haissh” katanya panik lagi-lagi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Kita tahu kalau kita sama-sama sudah dewasa jadi maksudku, kenapa tidak langsung kehubungan yang lebih serius…Yah itu maksdnya aku—kamu kita…Umm” dia memutar-mutar ponsel ditangannya lalu mendekatkan wajahnya kearahku, “Menikah…” bisiknya pelan.

Tahu apa yang kurasakan ? Tak akan bisa ku jabarkan saat ini yang jelas otot-otot wajahku terasa ditarik sehingga membuatku tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia,

Yes I do” balasku sambil berbisik juga.

Tawanya meledak dan berjoget-joget ria—finger moves-dance andalannya,tawa itu kini menghiasi wajahnya lagi dan tak hanya wajahnya tapi wajah semua orang disekeliling kami.Lamaran singkat, tanpa sebuah cincin tak masalah bagiku.

Mengaransemen ulang lagu memasukkannya dalam ponsel, memutarnya dan menyanyikannya ‘live’ tanpa pernah lepas menatapku, hal yang sederhana namun sangat berarti bagiku.

Pengakuan itu telah keluar dari bibirnya, sebuah pengakuan yang memperjelas hubungan diantara kami…Sepasang calon suami-istri, dan tak lama lagi status itu berubah menjadi resmi dimata hukum dan agama.Do’akan saja ^^

Ketidakpastian akan sesuatu hal memang sering membuat kita terjatuh, risau dan merasa sakit, tapi dibalik ketidakpastian itu pasti ada jawaban yang akan membayar semua kesakitan yang pernah kita alami sebelum mendapatkannya ^^.

****

Siwon mengacak-acak rambutnya, “Si magnae,mau mendahului hyungnya menikah ya ?” ujarnya.Donghae menganggkat bahu, “Entahlah yang jelas, bohong kalau dia bilang dia bukan pria romantis”

“Haish, Bocah itu ternyata raja gombal ya” cibir Heechul sambil memainkan kembang apinya.

Leeteuk mengangguk, “Bahkan langsung melamar, kita aja butuh waktu lama supaya bisa dapet istri kita yang sekarang” keluhnya. Heechul mengangkat sebelah alisnya, “Kita ?” yang disambut gelak tawa member lain.

Leeteuk mendengus kesal melihat tingkah Heechul, kini mereka menikmati BBQ party dengan penuh kebahagiaan karena semua yang ada ditempat itu, telah memiliki pendamping masing-masing ^^

-The End-

Geje pasti kan ? Iyalah, ini dibuat dengan perasaan teraduk-aduk~ *cough* cur *cough* col *cough* xD pelampiasan juga sih, lama gak liat dia… =_____=

tanpa harus disebutkan siapa namja-nya pasti reader(S) sekalian sudah pada tahu tooh ? anggap saja ini persembahan saia untuk dia tercinta *tssah* readers muntah*

KOMEN ! *ASAH GOLOK* — *gigit silent reader(s)*

7 pemikiran pada “This I Promise You (Confession of A friend – special part)

  1. wahh…
    tarik napas – kluarkan…
    tarik lagi – kluarkan lagi…

    aihh…
    tak bisa berkata2…
    ff ini keren >.<
    aku suka gaya bahasanya… gmn gitu kkkk~
    kerenlah pkknya (Y)

    eh, perkenalkan aku reader baru🙂

    • aah, jangan sesek napas ya ? /sodorin tabung oksigen/ xD
      aw~ thank you :3
      saya jadi tersandung (?)

      salam kenal juga purplecho,
      maaf kalo balesannya telat😦
      sering-sering main ke sini ya ^^/
      terima kasih sudah mampir!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s