When The Rain Falls : Yeon Sung’s Rain

Standar

Authors : Nandz (with Ridashin ^^)

Title : When The Rain Falls: Yeon Sung’s Rain

Length : Continue-Chapt 3/?

Genre : Romance

Rating : G

Disclaimer : the plot came from me and my partner–RidaShin.

Happy Reading~! Maap kalo ada kata2 yg fail dan aneh wkwk =____= readers, comment pleasseeeee~~!!

Shawol please don’t kill me ;____;

“SAKIIITT~~!!!” jerit Yeon Sung nyaring tepat saat bokongnya menghantam aspal.

Tawa meledak dari pinggir lapangan, seorang namja tertawa terpingkal-pingkal melihat Yeon Sung  yang meringis kesakitan.

“YA!!” teriaknya kesal dengan tertatih menghampiri namja itu—Lee Donghae. “Siapa yang menyuruhmu tertawa huh ?” tanyanya sinis.

Donghae memegangi perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa, “Hahaha~~~” tawanya masih menggema di lapangan basket dihalaman rumah keluarga Yeon Sung.

Lee Donghae adalah teman sekelas sekaligus sahabat Minho yang baru dikenal Yeon Sung beberapa jam yang lalu.Senja ini mereka bertiga menghabiskan waktu di lapangan basket yang ada di depan rumah Yeon Sung, hujan tadi pagi membuat permukaan aspal sedikit licin dan Yeon Sung melakukan kesalahan yang menyebabkan dirinya jatuh tergelincir.

“Terus tertawa saja Lee Donghae, suatu saat kau akan merasakan sakitnya karena menertawaiku!” umpat Yeon Sung memonyongkan bibirnya.

“Ah—jinca neomu kiyopta~!” Refleks, Donghae mengacak rambut Yeon Sung pelan membuat Yeon Sung terdiam ditempat. “YA Choi Minho! Adikmu lucu, boleh ku bawa pulang tidak ?” racau Donghae pada Minho yang baru saja datang dari dalam rumah.

“Bawa saja, dirumah kerjaannya hanya mengacau” kali ini Minho yang mengacak rambut Yeon Sung.

Yeon Sung mengigit kedua tangan Minho dan Donghae bergantian, “Dasar para penjahat!” teriaknya kesal.

“Aiiish” Donghae mengelus pergelangan tangannya, “Tidak jadi ku bawa, bisa-bisa nanti aku yang disantapnya!” Yeon Sung bersiap membalas kata-kata Donghae ketika tiba-tiba suara gemuruh datang dari langit yang semakin gelap dan membuat keduanya tersenyum puas.

“Hujan” ucap mereka bersamaan.Minho menggeleng-gelengkan kepala heran, kedua orang dihadapannya bukan orang biasa, mereka suka hujan.Sangat suka.

“Kau suka hujan ?” tanya Yeon Sung heran.

Donghae mengangguk, “Ne…Neomu johaeyo~” ujarnya.

Gerimis mulai turun, Minho memutuskan untuk masuk kedalam rumah meninggalkan Donghae dan Yeon Sung yang duduk di tengah lapangan basket menikmati rintik-rintik hujan yang sebentar lagi akan membasahi sekujur tubuh mereka.

“Neo…”

Yeon Sung menoleh, “Ne ?”

Donghae memiringkan kepalanya, memperhatikan Yeon Sung dengan seksama, “Kenapa tidak mirip dengan Minho ?”

“Hanya perasaan mu saja Lee Donghae~” jawab Yeon Sung masih asyik menengadahkan tangannya.

“Ani…Aku benar-benar yakin kalian tidak mirip!Kau lebih mirip dengan…” Donghae menggantungkan kalimatnya.

“Mirip…?” ulang Yeon Sung penasaran.

Donghae mengangkat ponselnya tepat dihadapan Yeon Sung, “Dia—Bada”

“YA! LEE DONGHAE~!! Kau pikir aku apa disamakan dengan Badaaaaa!!”

Donghae tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Yeon Sung yang merah karena marah.Senyuman terkembang diwajah Donghae, dia suka melihat mimik wajah Yeon Sung—semua—dari awal Minho menceritakan tentang adik perempuan kesayangannya ini hingga baru tadi mereka bertemu secara langsung.

“Yeon Sung-ah, kenapa kau suka hujan ?”

Yeon Sung mengangkat bahu, pandangannya menerawang ke arah langit gelap diatasnya, “Molla~ aku hanya merasa hujan itu menyenangkan…Sedihku ikut mengalir setiap kali hujan turun, hujan selalu ada untukku setiap kali aku merasa sedih, hujan menyembunyikan tangisku…”

Tanpa sadar mata mereka bertemu, membuat keduanya terdiam dibawah rintikan hujan.Donghae dengan tatapan kagum dan Yeon Sung…entahlah tatapannya sulit Donghae artikan, ada sesuatu dari diri Yeon Sung yang belum ia ketahui.

“Yeon Sung-ah…Oppa mau ke supermarket, ikut tidak ?” Minho muncul tiba-tiba membuat keduanya sedikit terkejut.

“Nde oppa, aku ikut!” Yeon Sung berdiri, diikuti Donghae yang berjalan dibelakangnya.Mereka bertiga menyusuri jalanan kota yang basah, sepi dan gelap karena matahari yang berganti dengan bulan, Minho menghela nafas melihat Donghae dan Yeon Sung yang berjalan dihadapannya tanpa menggunakan payung.

“Yeon Sung-ah, kemari, nanti kau bisa sakit” tawar Minho.

Yeon Sung menggeleng, “Shireo, aku suka begini” jawabnya.

Sepuluh menit kemudian mereka tiba di pinggir jalan, bersiap untuk menyebrang.Donghae menggengam pelan tangan kiri Yeon Sung sementara Minho menggaleng bahu Yeon Sung, ketiga orang tersebut melangkah dengan riang.Namun sayang, tanpa mereka sadari sebuah mobil melaju, kondisi jalanan yang licin membuat pengemudinya kehilangan kendali.

Kejadian itu terlalu cepat, bahkan bagi Yeon Sung—mobil itu mengarah ke arah mereka bertiga, namun sebelum badan mobil tepat menghantam mereka, tanpa diduga Minho mendorong tubuh Yeon Sung dan Donghae kebahu jalan.

Teriakan Yeon Sung teredam oleh suara decitan rem dan derasnya hujan.Minho—Oppa kesayangannya sudah tergeletak tak berdaya ditengah jalan.Darah segar mengalir dari pelipis kanannya.Sedetik kemudian Yeon Sung berlari menghampiri tubuh Minho, berusaha untuk menjaga kesadarannya sementara Donghae menelfon ambulance.

“O—o—pp—aa!” isaknya, darah terus mengucur dari tubuh Minho bercampur dengan air hujan dan membentuk sebuah sungai kecil dengan warna merah darah segar.

Yeon Sung terus menggengam tangan Minho bahkan ketika langkah kakinya beradu dengan suster-suster di koridor rumah sakit.Dejavu, itulah yang dirasakan Yeon Sung, suasana kepanikan di koridor rumah sakit, tangisan bahkan pakaian yang penuh dengan bercak darah.

“Namanya Yeon Sung…Hanya dia yang selamat sementara kelu—“suara tangisan terdengar.

“Kecelakaan terjadi ka—orang tu—karena—Hu..”

“Arrkh!”

Rasa sakit yang hebat mejalari kepala Yeon Sung, membuat langkahnya terhenti ditempat.Menopang dirinya dengan bantuan tangan dan tembok disekitarnya.Beruntung saat tubuhnya hampir ambruk, Donghae ada didekatnya menahan tubuh mungil Yeon Sung.

“Yeon Sung-ah, gwenchana yo?”

Bau rumah sakit menusuk hidung Yeon Sung, dia benci rumah sakit.Rumah sakit selalu membuatnya tidak nyaman, seakan-akan memberikan kenangan buruk untuknya.

“Oppa” liriknya.

Yeon Sung berdiri di ambang pintu, pandangannya mengarah pada Minho yang tergolek lemah dengan berbagai macam alat yang tertancap ditubuhnya.Orang tua Yeon Sung setia menjaga Minho dan tak pernah meninggalkannya.

Pandangan Yeon Sung mulai kabur, kabur oleh air mata yang menggenang dan siap untuk jatuh, hatinya sesak, sangat.Kakinya seakan tak mampu berdiri lagi, Yeon Sung memutuskan untuk keluar dari Rumah Sakit menuju taman yang tak jauh dari sana.

Hujan masih mengguyur, Yeon Sung merasa dingin.Baru kali ini dia merasa hujan begitu menyakitkaan, membuatnya merasa membeku, sama seperti hatinya sekarang.

“Op..pa” hanya kata itu yang terucap dengan samara.Yeon Sung duduk didekat ayunan, memeluk erat lututnya yang mulai mengigil, buku-buku tangannya memutih dan bibir mungilnya mulai membiru.

 

-Flashback-

“Kami membutuhkan donor darah!” Suara suster menggema di koridor rumah sakit, untungnya saat itu orang tua Yeon Sung sudah tiba disana.Ya, Minho kehilangan banyak darah karena kecelakaan itu.Harusnya Yeon Sung bisa mendonorkan darahnya, tapi sayangnya dia tidak bisa, bukan karena Yeon Sung belum cukup umur atau memiliki penyakit, tapi karena golongan darahnya yang berbeda.

Lalu bukankah hal itu sepele ? Sepele kalau hanya dengan Minho, tapi kenyataan berkata lain.Hasil tes darah menyatakan kalau golongan darah Yeon Sung berbeda dengan Minho maupun kedua orang tuanya dan itu berarti Yeon Sung bukan keturunan keluarga Choi.

Yeon Sung terlalu takut untuk menanyakan kebenarannya, asal usul dirinya.Orang tuanya masih sibuk mengurus Minho yang tergolek lemah.Yeon Sung terlalu takut untuk menerima kenyataan.

Kenapa dirinya tak menyadari hal ini dari awal ? Yeon Sung ingin menjarit namun suara itu tak kunjung keluar, hanya isakan tangis yang terdengar.Untuk sekian lama akhirnya airmata Yeon Sung mengalir dan bercampur dengan hujan.

Tak perduli dengan bajunya yang penuh bercak darah minho dan airmatanya yang terus mengalir, toh tak akan ada orang yang menyadari kalau ia sedang menangis.Bukankah hujan selalu menyembunyikan tangisnya ?

“Tidak baik kalau menangis sendirian”

Yeon Sung mendongak, Donghae menjatuhkan dirinya tepat disamping Yeon Sung, “Selalu saja menikmati hujan sendiri”

“Untuk apa kemari ? Bukannya tadi kau sudah pulang ?”

Donghae menggeleng, “Aku masih ingin menikmati hujan…denganmu” bisiknya. “Lagipula…” Donghae memutar tubuhnya dan menarik Yeon Sung kehadapannya, “Aku ingin menghiburmu” tangan Donghae merengkuh wajah Yeon Sung dan menghapus airmatanya.

Yeon Sung menepis tangan Donghae, “Aku tidak menangis, Donghae-ssi”

Donghae tertawa, “Sepertinya hujan sedang tidak bersahabat dengan mu”

“Aku….Benci hujan” desis Yeon Sung. “Biasanya hujan selalu membawa kebahagiaan untukku, biasanya hujan selalu membawa pergi kesedihanku bukan kebahagiaanku…” Yeon Sung kembali memutar tubuhnya menghadap Donghae, “Bahkan biasanya hujan menyembunyikan tangisku hingga tak ada yang tahu kalau aku menangis”

Yeon Sung bangkit dan mengadahkan tangannya, berusaha menampung air hujan, “Kejadian hari ini membuktikan semuanya Donghae-ssi, hujan tak benar-benar baik padaku, dia benci aku” lirihnya.Sebuah senyum terkembang di wajah Yeon Sung, senyuman yang membuat hati Donghae sakit karena senyum itu adalah senyum yang penuh luka.

“Aku ingat semuanya, kejadian itu…Kami pergi ke Busan dan aku sangat senang karena saat itu hujan, aku masih terlalu kecil saat itu tapi kesenangan ku tak berlangsung lama, mobil kami tergelincir dan menabrak pembatas jalan…” Yeon Sung merasakan denyutan di kepalanya—lagi.

“Yeon Sung ah” Donghae berdiri, mendekati Yeon Sung.

“Aku memang tidak mirip dengan Minho oppa, aku berbeda dari eomma dan appa karena aku bukan anak kandung mereka” isaknya.

“Eomma, Appa… darah…” napasnya memburu, air mata Yeon Sung kembali mengalir.Pancaran matanya kosong dan terluka, “Kepalaku membentur aspal dengan keras, aku hilang ingatan dan begitu sadar aku bukan jadi diriku sendiri, sebenarnya aku bukan Yeon Sung, aku…bukan….”

Donghae menarik Yeon Sung kepelukannya, “Sssh, tenanglah” Yeon Sung masih saja meracau tak jelas, menangis dan terkadang menjerit. “Demi Tuhan, Choi Yeon Sung, SADARLAH!” bentak Donghae melepas pelukannya.

Tangan Donghae mencengkram erat bahu Yeon Sung, “Kau..,Choi Yeon Sung, bukan orang lain….Aku juga tahu semuanya, Minho pernah bercerita kepadaku, orang tua kandungmu adalah teman baik orang tua Minho, karena itulah mereka memutuskan untuk merawatmu tanpa mengungkit soal kecelakaan itu!Sekarang yang terpenting adalah mereka menyayangimu seperti keluarga kandung mereka sendiri!”

Hening, Donghae membelai rambut basah Yeon Sung yang kini terdiam dan kembali memeluknya.

“Aku tidak perduli jika ‘Hujanmu’ sekarang merenggut kebahagiaanmu, aku tidak perduli kalau ‘hujanmu’ berbalik menyakitimu, bahkan membuatmu menangis…”

Pelukan Donghae semakin erat, “Karena aku, yang akan menggantikan ‘hujanmu’, aku yang akan selalu disisimu, aku yang akan membuatmu bahagia, aku yang akan melindungimu, bahkan aku…” Donghae melepas pelukannya,

“Yang akan menyembunyikan tangismu, dan mulai sekarang…Aku, Lee Donghae adalah pengganti ‘Hujanmu’” ujar Donghae mengecup kening Yeon Sung.

 

pic cre : @donghae861015 , @tyasRZ *if i’m not mistaken lol

please shawol don’t kill me, I feel burdened because of 2min

12 pemikiran pada “When The Rain Falls : Yeon Sung’s Rain

  1. Saya……… Speechlesss aaaaaaa unyunyaaa~ nangis loh baca akhirnya…. Tidak menyangka ceritanya akan sebagus ini aaaaaaa ketagihan aaaaaaa

  2. annyeong nanda n chiq un . . .
    lama ga main k’rumah panda #kangen juga . . .

    seruuu un . .
    tp masih agak bingung ma crt’a #plak
    lanjut un . . .

  3. Ketinggalan =.= tega bgt ditag-nya ga ada hae,pdhl main cast (nangis peluk hae) minho mati pula T.T bagus,onn.tapi minho mati…

  4. Ping balik: Fanfics List :) « More than words

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s