Circus Man? it’s okey! chapter 1 of 2

Standar
Author : Alstonia Silva
Title : Circus Man? it’s okey! chapter 1
Length : chap 1 of 2
 Genre : Continue/ Romance/Comedy
Rating : G

“YA! eun ah-ya habiskan dulu sarapanmu” bentak eomma padaku.

“andwae eomma, aku sudah terlambat” ku lirik jam tangan kuningku yang sudah menunjukkan pukul 06.45. “aku janji sehabis pulang sekolah, aku akan menghabiskan sarapanku” rayuku pada eomma dan ternyata berhasil. “eomma, appa aku pamit” kataku lagi.

Annyeong~ kenalin namaku Lee Eun Ah. Aku murid di salah satu SMA terkenal di Seoul. Aku punya sahabat yang bernama Kim Seul Mi. Appa ku bekerja sebagai  karyawan di perusahaan asing di Seoul dan eomma ku bekerja sebagai designer. (kayaaa banget..)

Di sekolah.

“ya tuhan~ mimpi apa aku semalam? pagi-pagi udah ketemu namja cakep” ucapku dalam hati sambil mengintip dari balik tiang sekolah. Tapi hayalan itu buyar gara-gara seul mi mengagetkanku.

“YA! apa yang kau lakukan?” tanya seul mi.

“a-ani, aku hanya——” belum sempat aku menjelaskan, dia sudah memotong kalimatku.

“ooohhh~ jadi itu yang membuatmu bertingkah seperti ini?”

“mwo??” mataku terbelalak kaget. “jangan sampai dia tahu” harapku dalam hati.

“Jang Hyunseung. murid terpandai di sekolah ini, kaya, cool, berkarisma, bertalenta, ramah, misterius, bla bla bla” (bakalan panjang kalau diterusin :D) jelas seul mi sambil mondar-mandir dihadapanku.

“apa yang kau bicarakan?” tanyaku pura-pura tidak tahu. tapi thanks banget deh, aku jadi punya info tentang dia.

“sudah tak usah berpura-pura seperti itu. ayok kita ke kelas, jam pertama kita praktek olahraga”

“ah~ tunggu!”

“now what’s again?” seul mi membalikkan badannya.

“hei, kau punya nomor hapenya?” bisikku pada seulmi.

“mwo??” kali ini seul mi yang terbelalak kaget. Seisi sekolah langsung menatap mereka dengan tatapan ingin membunuh (?).

“ssssstttthhhhzzzz! jangan keras-keras”

“aku tidak punya nomor hapenya. sangat susah untuk mendapatkannya” kami berbicara dengan suara yang sepelan-pelannya. Sampai semut saja tidak bisa mendengar kami.

“apakah itu sama susahnya dengan ulangan matematika kemarin?”

“ya kurang lebih seperti itu”

“waaa~ daebak!”

seul mi yang merasa aneh mendengar jawanku, langsung menatapku penuh tanda tanya.

“what are you thinking? kita bisa terlambat ikut pelajaran olahraga. ppali…ppali” ucapku.

Malam hari, di kamar.

Aku berbaring di atas kasur sambil mendengarkan lagu “Change”. Tiba- tiba terlintas dipikiranku tentang namja yang tadi pagi kulihat. Akupun memikirkan berbagai cara agar mendapat nomor hapenya atau lebih bagus lagi aku bisa dekat dengannya ahahahaa. Tapi apa??

10 menit berlalu~

“Ahaa..bagaimana kalau aku memata-matainya? Yak!! ide bagus” aku berdiri di depan cermin sambil membangga-banggakan diriku “Lee Eun Ah, kau memang pintar kkk~” ku raih hape nokia ku lalu mencari kontak “Seul Mi”. Call. Tuuut tuuut tuuut~

seul mi             : yoboseyo!

me                   : yoboseyo..seul mi-ya, apakah besok kau ada kegiatan?

seul mi             : sepertinya tidak ada. waeyo?

me                   : good. besok kau harus menemaniku jalan-jalan dan jangan lup     bawa perlengkapan penyamaran kkk~

seul mi             : he? I don’t like that laugh. siapa lagi targetmu kali ini?

me                   : siapa lagi kalau bukan Jang Hyunseung. ku tunggu di taman jam 8 pagi. bye..bye

-end- tuuut..tuuut..tuuut

Ini akan sangat menyenangkan “hyunseung, kena kau!” ucapku pada boneka panda.

Di taman.

Seul mi yang pagi itu datang duluan langsung menuju bangku ayunan sambil memutar lagu “I Like U The Best”

5 menit berlalu~

“hah-hah-hah mianhe hah-hah-hah” ucapku pada seul mi dengan nafas yang ngos-ngosan.

“gwenchanayo. apa yang kau bawa?” tanya seul mi santai.

“ahh ini..” aku mengeluarkan jas berbentuk mantel, topi, dan kacamata kuning dari dalam tas ransel yang ku bawa. “bagaimana denganmu?”

“sama seperti mu. tapi kacamataku berwarna ungu”

“kalau begitu, ayok kita jalankan rencana” teriakku

“fighting!” teriak seul mi yang gak mau kalah denganku.

*Hari Pertama

Aku dan seul mi mendatangi rumah hyunseung. Kami bersembunyi di balik pohon besar yang ada di dekat rumahnya sambil sesekali mengintip daerah rumahnya.

“lihat! target sudah keluar rumah” ucapku pada seulmi dengan gaya bicara seperti detektif.

“cepat kita ikuti. kalo tidak, bisa kehilangan jejak” ucap seulmi

“beres..”

“aaaarrrgghhh jalanan disini rame sekali” omel seul mi.

Aku tidak menghiraukannya, aku malah sibuk sendiri dengan si target.

“YA! apakah kau tidak merasa?” tanya seul mi kesal.

“ssssttthhhzzz. diam dan perhatikan” ucapku santai.

“mwo?? haishh kau ini” gerutu seul mi.

“ahh iya bener juga, tumben sekali jalanan di sini rame” ucapku dalam hati. ku lihat sekelilingku yang penuh dengan manusia (?).

“seul mi-ya! lihat! target menghilang. ottokhe?” aku merasa panik sekaligus bingung.

“tenang saja. biasanya kalau di film-film si target bakal muncul di belakang kit—-ta” ucap seul mi

“waeyo?” aku menoleh ke belakang, dan ternyata (jeng..jeng..jeng) yang muncul adalah ahjjusi penyapu jalanan.

“jweosonghamnida” ucapku pada ahjjusi sambil membungkukkan badan.

“apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya.

“ne? ah ani- kita hanya bingung bagaimana pohon ini bisa tumbuh?” (gubrak!) ucapku pada ahjjusi dengan tujuan agar dia pergi, tapi ternyata gagal. Dia malah menjawab dan menjelaskan pertanyaan aneh tadi.

“pohon ini bisa tumbuh karena—-”

“ahjjusi, sepertinya kita sudah tahu jawabannya” belum sempat dia menjelaskan, seul mi sudah memotong. Semoga bisa ngebantu kita buat kabur.

“good job seul mi” ucapku dalam hati.

“hei, anak muda lain kali tanya aku saja kalau kalian merasa bingung” ucap ahjjusi seraya pergi meninggalkan kita.

“ne~ jweosonghamnida” ucap kami pada ahjjusi sambil membungkukkan badan.

“makanya jangan kebanyakan nonton film” (pletak) omelku pada seul mi dan diikuti dengan menjitak kepalanya.

“aaaa- sakit, tapi kan biasanya begitu” seul mi membela diri, gak mau kalah.

“yayaya” ucapku acuh “dan sekarang kita benar-benar kehilangan target”

“tenang, masih ada hari esok. kan kita libur seminggu” seul mi mencoba menghiburku.

[Flashback bentar ya ^^]

Sekolah kami libur seminggu, tapi kami tidak tahu alasan guru-guru meliburkan kami. Tak apalah, dengan begitu aku bisa memata-matain namja misterius itu aka Jang Hyunseung.

Result hari pertama = GAGAL

*Hari Kedua

Hari ini aku bekerja sendirian, seul mi pergi ke luar kota bersama orangtuanya. So bored~~

[Flashback lagi ya ^^ ..bentar aja] (ni author senengnya main flashback2an atau gimana?)

seul mi             : yoboseyo!

me                   : yoboseyo! hei, kau di mana?

seul mi             : mianhae, aku tak bisa menemanimu. Aku harus ikut eomma dan appaku ke luar kota. Jeongmal mianhae-

me                   : kau ini —— (sigh). Yasudahlah, dimaafkan.

seul mi             : yeee~ gomapta..

me                   : ne..ne

-end- tuuut..tuuut..tuuut

“itu dia! kena kau kali ini” ucapku. “eh, dia mau kemana tuh?” tanyaku dalam hati. Dan ternyata dia menuju ke sebuah toko—— “he? toko mainan anak-anak? mau apa dia?” aku semakin bingung dengan tingkah anak itu.

Tak lama kemudian dia keluar dari toko dengan membawa bungkusan yang lumayan besar dan tentu saja aku terus mengikutinya. Kali ini dia menuju ke halte bus.

“permisi anak muda” tiba-tiba seorang halmoni datang menghampiriku dan sontak aku langsung membalikkan badan.

“apakah kau tahu alamat ini?” tanya halmoni sambil menyodorkan secarik kertas.

“ne, halmoni tinggal lurus saja, terus ada pertigaan belok kanan. rumahnya tepat disamping minimarket” jelasku.

“kamsahamnida” ucap halmoni berkacamata itu.

[eh,eh eun ah, yakin tuh jalanannya bener? ..yakinlah, secara alamat yang ditanyakan, alamat rumahku (gubrak!)]

“aaarrrgghhh kehilangan jejak lagi deh” gerutuku dalam hati. “oiyaaa, dia kan tadi mau ke halte bus, siapa tahu dia masih ada di sana” tanpa ancang-ancang aku langsung mengambil langkah seribu. Tapi—— si target sudah tidak ada, dia sudah menaiki bus yang arahnya saja aku tak tau.

“heeiii tungguuu” teriakku sambil mencoba mengejar bus. Berhasil, busnya berhenti. “mwo? berhenti? Ottokhe?” tanpa pikir panjang aku langsung kembali kembali ke halte bus. Pura-pura tidak tahu.

“haaiisshh dasar bodoh” omel si supir bus.

Dengan cepat ku periksa “Jadwal Kedatangan Bus”. “igot mwoya? Bus selanjutnya akan tiba jam 07.00 malam?” ku lihat jam tanganku yang masih menunjukkan pukul 02.00 siang.

Dengan pasrah ku taruh diriku di pojokan bangku halte bus, lalu mengambil nafas panjang. “aaaa- Dewi Fortune please comeback to me” rengekku dalam hati.

Result hari kedua = GAGAL (lagi)

*Hari Ketiga

Hari ini aku bekerja sendirian lagi, seul mi masih di luar kota bersama orangtuanya. [tenang, gak ada flashback2an lagi kok]

“toko mainan lagi? hobi banget tu bocah ke toko mainan” ucapku dalam hati. Tapi kali ini dia tidak masuk ke toko melainkan berdiri di depan toko, sepertinya dia menunggu seseorang. Tiba-tiba seorang yeoja datang menghampirinya. “aarrggghhh siapa yeoja itu? Ini tidak bisa dibiarkan” ucapku kesal.

Sementara itu, diseberang sana.

“annyeong oppa” sapa yeoja itu. “mianhae membuatmu lama menunggu”

“gwenchanayo, ayok kita berangkat. Teman-teman yang lain sudah menunggu” ucap hyunseung ramah.

“ne~” angguk si yeoja.

“nah loh? Mau kemana mereka? Ikutin..ikutin jangan sampe kehilangan jejak lagi” ucapku dalam hati.

Mereka berhenti di halte bus yang kemarin, tak lama kemudian bus datang. “kali ini aku gak boleh gagal” Yakk! Berhasil, aku sengaja memilih tempat duduk tepat di belakang mereka.

Selama perjalanan mereka tidak saling mengobrol satu sama lain, sampai akhirnya mereka tertidur. Aku mencoba mengintip mereka dari atas kursi. Pandanganku terpaku pada sticker nama yang tertempel di tas selempang yang dipakai yeoja itu.

“Park Hyeonji?” ku coba mengeja namanya. “ooohhh jadi namanya Park Hyeonji”

[ih norak deh pake sticker nama segala, takut ilang ya mba tasnya?! ..anio, di korea lagi musim menempel sticker nama seperti itu]

Lalu pandanganku beralih ke hyunseung. “omooo- handsome banget. kyaaa” jeritku pelan. Tiba-tiba telintas dipikiranku untuk memotretnya.

Cekrik! “aaaa- kyeopta”. Cekrik! Cekrik! Cekrik!. Hyunseung yang merasa terganggu dengan suara kamera itu, merubah posisi tidurnya. Dengan cepat aku kembali ke tempat dudukku.

“Welcome To The Circus Land?”

ku baca papan nama yang terpasang di depan gedung yang hyunseung dan hyeonji masuki. What the?? aku masih tidak percaya dengan papan nama yang ku baca tadi. “masuk gak ya? Ntar kalau aku masuk—– arrgghh molla molla” akhirnya dengan segala keraguan kuputuskan untuk masuk setelah mengambil nafas panjang.

“ada yang bisa dibantu?” tanya seorang namja yang tiba-tiba datang menghampiriku.

“ah ani- aku hanya penasaran dengan tempat ini” jawabku ramah.

“hyuk jae imnida, tapi teman-teman biasa memanggilku dengan nama eunhyuk..namamu?”

“eun ah imnida. Hei, namamu sama persis dengan nama salah satu member digrup super junior”

“anio, dia yang mengikutiku. Kau mengenalnya?”

Ku gelengkan kepalaku yang berarti aku tidak mengenalnya.

“YA! Eunhyuk-ssi, kau berbicara dengan siapa?” teriak seorang namja di seberang sana.

“kita kedatangan tamu” teriak eunhyuk balik.

“tamu?” tanyaku dalam hati.

“aku akan mengajakmu berkeliling gedung ini. Kajja!” ajak eunhyuk.

“jeongmalyo?” tanyaku yang masih tidak percaya.

Dia hanya membalas dengan senyuman mautnya.

“waa- daebakk! Luas sekali di dalam sini” kataku dalam hati sambil menebar pandangan ke setiap sudut gedung.

“ah junhyung-ssi, kesini sebentar” panggil eunhyuk.

“oke boss” jawab junhyung singkat.

“kenalkan ini tamu kita”

“eun ah imnida” kataku sambil membungkukkan badan.

“junhyung imnida” balas junhyung sambil tersenyum.

“di sini dia sebagai joker. Junhyung-ah, tolong temani melanjutkan berkeliling gedung ini. Aku ada urusan sebentar” pinta eunhyuk.

“laksanakan”

“apakah dia ketua kalian?” tanyaku pada junhyung.

“ya, dia ketua kami. Dia orangnya baik, ramah, lucu, dan sabar, tapi kami sering mengerjainya dengan panggilan ahjjusi” jelas junhyung.

“YA! Siapa yang kau sebut ahjjusi?” teriak eunhyuk.

“mollayo~” teriak junhyung singkat.

Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua namja itu.

“hei, apakah kau suka tokoh joker?” tanyaku lagi.

“ne, dia adalah inspirasiku didalam sirkus ini. Waeyo? Kau tidak suka?”

“ani- aku juga suka. Karakter joker sangat unik, asal jangan dibawa ke dunia nyata ya”

“ahahahaaa..” tawa junhyung. “beres-”

Tiba-tiba pandanganku berhenti pada sesosok namja yang…sepertinya aku kenal. Benar, dia hyunseung.

“hei, apakah itu hyunseung?” tanyaku lagi.

“ya benar. Kau mengenalnya?” tanya junhyung balik.

“ya, aku kenal. Dia satu sekolah denganku” jawabku.

“hyunseung-ssi, cepatlah kesini” panggil junhyung.

“waeyo? Kau mengganggu latihanku saja” omel hyunseung.

“ada yang mau bertemu denganmu, katanya sih dia satu sekolah denganmu” bisik junhyung.

“jeongmal?” tanya hyunseung kaget.

Junhyung membalas dengan angukkan.

“well, aku akan meninggalkan kalian berdua. Ngobrollah dengan santai” ucap junhyung seraya meninggalkan kami.

“hmm- apa yang kau lakukan disini?” tanya hyunseung membuka pembicaraan.

“aku ng-ng-ng aku-aku hanya iseng saja” jawabku dengan penuh keringat dingin. “jadi, kau bekerja disini?”

“ya, seperti yang kau lihat. Aku memanfaatkan badanku yang lentur ini”

“mengapa kau tidak memilih menjadi dancer saja?” tanyaku lagi.

“aku sudah bosan menjadi dancer, aku ingin mencoba sesuatu yang baru”

“emang orangtua setuju?” (ni bocah nanya-nanya mulu dari tadi).

“awalnya mereka menolak, tapi setelah ku jelaskan panjang lebar akhirnya mereka setuju”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan darinya.

“mengapa kau tersenyum? Ada yang lucu denganku?”

“aku kagum padamu [ciyeeeh]. Ternyata di balik kemisteriusanmu, kamu orangnya supel” jawabku sambil tersenyum.

“misterius? Pasti anak-anak satu sekolah yang memberiku sebutan seperti itu, ahahaaa” bangga hyunseung

“lalu siapa yeoja itu?”

“yeoja?” tanyanya heran.

“yeoja yang bersamamu tadi, yang kau temui di depan toko mainan”

“darimana kau tahu?”

“ng-itu itu-ng-gak sengaja aku tadi melihat kalian” ucapku gugup.

“maksudmu hyeonji? Dia sepupuku, namanya Park Hyeonji. Aku sengaja membawanya kesini agar dia tidak pemalu lagi” jelasnya.

“syukurlah, yes! yes!” ucapku pelan.

“oppa, kau kemana saja? Aku mencarimu dari tadi” tanya hyeonji yang tiba-tiba datang menghampiri kami.

“ah iya kenalin ini eun ah, dia teman sekolahku” suruh hyunseung.

“eun ah imnida” sapaku ramah.

“hyeonji imnida” balas hyeonji. “oppa, kau dicariin sama ketua tuh”

“haisshh mengganggu saja” omel hyunseung. “kau tolong temani eun ah ya” ucapnya sambil lari meninggalkan kami.

“kau dekat dengannya?” tanya hyeonji.

“ne? Maksudmu hyunseung? Gak juga. Kami jarang bertemu di sekolah, jarang sapa, jarang ngobrol, ya pokoknya jarang-jarang deh” jelasku.

“lalu bagaimana kau bisa tahu kalau dia bekerja di sini?”

Jederrrr! Sepertinya hari ini aku mandi keringat, setiap ditanya seperti itu refleks keringatku keluar. “ng-itu aku hanya iseng aja”

“mmm- onnie, boleh minta nomor hape?” tanyanya sambil mengeluarkan hape LG pinknya,

“sure. For what?”

“buat nambah teman aja hehe”

“arraseo” jawabku sambil tersenyum. “hei apakah kau punya nomor hapenya hyunseung?”

“punya, wae? Kau mau?”

Ku anggukkan kepalaku dengan tempo cepat (?)

“okee, akan ku kirim ke nomormu”

Result hari ketiga = SUKSES ^^v

-tbc-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s