When The Rain Falls : The Last Rain

Standar

When The Rain Falls : The Last Rain

Author : Nandz ft. Tyasaziza😄

Picre : Donghae & Siwon’s twitter, tyas & dhita🙂

a/n :

Sorry for waiting this update (>/\<)

Finally it’s done muahahaha~

happy reading :3

A Café—A Few days later…

 

“Ternyata dunia ini sempit ya ?” Donghae merilekskan badannya sejenak. Di hadapannya Hyoki, Yeon Sung dan Siwon saling bertatapan bingung, “Sempit ?”

Donghae mengangguk, “Aku dan gadismu ini ternyata satu sekolah, sedangkan kau dengan Yeon Sung dulu pernah ada di sekolah yang sama sebelum kau pindah ke Luar negeri, dan sebelum itu aku pernah bertemu dengan gadismu ini di halte”

“Ehem…Jwaseonghamnida Donghae-ssi, joneun Han Hyoki imnida dan aku bukan gadisnya” Hyoki melirik sekilas kearah Siwon.

“Ne, maksudku itu…Hahaha”

“Aku juga pernah bertemu dengan gadismu hyung” Siwon beralih ke Yeon Sung.

“Jinjayo ?”

Yeon Sung mengangguk, “Saat Siwon sunbae menanyakan dimana letak halte dan—Ya Ampun ! Payungmu !”

Siwon tertawa kecil, “Gwenchana, tidak masalah…Mulai sekarang biasakan memanggilku dengan sebutan ‘oppa’, araci ?”

Yeon Sung berniat untuk menyela namun ditahannya, tak masalah baginya jika harus memanggil Siwon tapi tampaknya pria disamping Yeon Sung kurang setuju.

“Aku juga~ ‘Donghae oppa~, araci ?” pinta Donghae.

Yeon Sung mendengus, “Tidak mau”

Donghae mencubit gemas gadis di sampingnya, “Aigo~ uri YeonSung~”

Hyoki berdehem, menyadarkan kedua pasangan itu kembali ke alam nyata. Sedikit merasa tidak nyaman karena disamping Hyoki adalah Siwon—yang jelas bukan siapa-siapanya—hanya sebatas orang yang menolongnya.

“Aku ke toilet sebentar” Siwon berdiri dari tempat duduknya dan melenggang keluar.

Hyoki menyeruput tea-nya dengan anggun membuat Yeon Sung mengaguminya. “Apa ada yang aneh denganku ?” tanya Hyoki tidak nyaman.

Yeon Sung menggeleng lalu tersenyum, “Aniyo…” gumamnya pelan.

“Hyoki-ssi, boleh aku tahu kau kelas apa ?” tanya Donghae.

“C” jawab Hyoki singkat. Donghae mengangguk mengerti, “Sudah mengerjakan soal matematika yang diberikan Shin songsaengnim ?” tanya Donghae.

“Oh ?” Hyoki sedikit terkejut. “Kau juga mendapat tugas yang sama ?” Hyoki terlihat mulai tertarik dengan topic yang Donghae lontarkan. Yeonsung tersenyum tipis mendengar Hyoki dan Donghae yang sudah asyik membicarakan urusan sekolah mereka.

Yeon Sung memutuskan untuk melihat jejeran foto yang dipamerkan di dalam café. Pandangannya tertuju pada sebuah foto dengan pasangan muda-mudi sebagai objeknya.

“Foto ini diambil sekitar tujuh belas tahun yang lalu” Yeon Sung menoleh, seorang wanita umur dua puluhan berdiri dibelakangnya, “Aku Park Hani, pemilik café ini” ucap wanita itu mengenalkan diri.

“Yeon Sung imnida” ucapnya memperkenalkan diri.

Mereka kembali memperhatikan foto itu, Yeon Sung tersenyum kecil, “Aku suka foto ini, mereka saling bergandengan tangan dibawah hujan” ujarnya.

“Menurut cerita ayahku, mereka memang sepasang kekasih dan tempat ini adalah tempat dimana mereka pertama kali bertemu” terang Hani.

“Ah~ romantis” Yeon Sung memuji. “Rasanya aku ingin kesana” gumamnya pelan.

Ia kembali ke tempat duduknya, sudah ada Siwon disana. Mereka kembali melanjutkan obrolan hingga tak sadar matahari sudah terbenam. Donghae dan Siwon mengantarkan kedua gadis itu—yang ternyata berdekatan rumah namun mereka tidak menyadarinya sama sekali—Hyoki masuk kedalam rumah diiringi lambaian dan senyuman manis dari Siwon.

“Eii~ Indahnya jatuh cinta” goda Yeonsung.

Siwon mendelik, “Ucapan itu juga untukmu adik kecil” balasnya. Yeonsung mengangkat bahu, berjalan mendahului kedua pria itu. Memang benar, semenjak kejadian di taman waktu itu ia dan Donghae semakin dekat. Yeonsung sadar kalau ia menyukai Donghae untuk itu disaat valentine mendatang ia ingin memberikan kado untuk Donghae sekaligus menyatakan perasaannya.

Yeonsung berbalik cepat, berbisik ke telinga Siwon—membuat Donghae berdehem keras dan berusaha memisahkan mereka. “Kalian membicarakan apa ?” selidik Donghae.

“Rahasia” Yeonsung menjulurkan lidahnya kearah Donghae. “Aku pulang sekarang ! Terima kasih untuk hari ini, selamat malam” pamitnya.

—————

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Hyoki, Yeonsung dan Donghae juga Siwon terlihat semakin akrab. Tapi terkadang Yeonsung merasa sedikit cemburu dengan keakraban Hyoki dan Donghae. Akhir-akhir ini mereka sering pulang bersama tanpa ditemani Siwon maupun Yeonsung.

Sore ini mereka bertemu di sebuah mall, sesuai dengan ajakan Yeonsug di malam itu. Ia ingin Siwon menemaninya mencari kado yang tepat untuk Donghae. Setelah berkeliling akhirnya pilihan Yeonsung jatuh pada sebuah hoodie abu-abu dan topi baseball berwarna hitam.

Sembari menunggu Yeonsung membuka pembicaraan mengenai kedekatan Hyoki dan Donghae, “Oppa tidak khawatir ?”

Lelaki disampingnya hanya tertawa. “Kenapa harus khawatir ?”

“Hyoki dan Donghae semakin akrab, Oppa menyukai Hyoki bukan ?”

Siwon terdiam. Memang dia tertarik dengan Hyoki, apalagi dia berjanji untuk membantu gadis itu melupakan masa lalunya yang menyakitkan. Lalu ketika Donghae dan Hyoki semakin akrab, dia hanya tersenyum tanpa beban karena ia yakin Donghae hanya ingin membantu mendekatkan Hyoki dengannya.

“Tidak perlu sekhawatir itu Sung-ah” Lesung pipi Siwon tersembul, “Donghae hyung tidak akan berpaling darimu” ucapnya lagi.

Yeonsung mendengus. Menurutnya Siwon terlalu santai, nanti jika yeojanya direbut pasti dia akan menyesal. “Terserah Oppa saja, tapi ingat jangan salahkan siapapun jika Hyoki diambil pria lain” cibirnya.

Siwon menepuk kepala Yeonsung pelan, “Arasseo…Setelah ini kita makan siang bersama, araci ?”

Yeonsung mengangguk, “Bahagianya jika punya pacar seperti mu…” gumam Yeonsung.

“Tapi sayang aku tidak tertarik padamu” balas Siwon yang langsung dibalas dengan wajah merengut Yeonsung.

—————-

Valentine’s Day…

Yeonsung bersenandung riang, langkahnya terasa ringan memasuki gerbang sekolah Donghae yang terbuka lebar. Tangannya menenteng hadiah yang sudah terbungkus rapi lengkap dengan kartu ucapan di dalamnya.

Matanya mencari-cari kelas Donghae, sebagian siswa memang sudah meninggalkan sekolah sedari tadi namun Yeonsung yakin Donghae masih disini. Akhirnya ia menemukan sosok pujaan hatinya, tepat di  pinggir lapangan. Duduk sambil tersenyum menatap langit, ah Yeonsung selalu suka dengan wajah itu.

Namun matanya menangkap sosok lain yang berjalan mendekati Donghae. Yeonsung mengurungkan niatnya untuk menghampiri Donghae. Kakinya masih terpaku ditempatnya, melihat adegan di hadapannya. Hyoki dan Donghae.

———

Hyoki berlari menuju Donghae, “Hae-ya” Donghae berbalik lalu tersenyum menyambut gadis yang berlari kearahnya.

“Hyoki-yah, ada apa ?”

Tangan Hyoki terulur menyerahkan sebuah bungkusan berwarna merah jambu itu. Donghae menerima bungkusan itu dengan wajah sumringah, “Buatku ? Ah…Gomapta !” ujar Donghae sambil mengacak rambut Hyoki pelan.

Hyoki memperbaiki tatanan rambutnya yang kusut, “YA! Bukan buatmu, tapi buat Siwon” gerutunya.

Donghae mendengus, “Pilih kasih ! Kenapa hanya dia ? Mana bagianku ?” sungutnya. Hyoki hanya tertawa kecil, “Hehe~ aku lupa, untuk mu menyusul saja araci ?”

Donghae mengangguk asal, “Ne…”

Hyoki berniat kembali ke kelas ketika tiba-tiba Donghae menarik tangannya, “Tunggu…” Donghae menahannya.

“Wae ?” tanya Hyoki.

Donghae mendekat ke arah Hyoki, cukup dekat hingga sempat membuat Hyoki merasa geli. “Aku mau minta tolong padamu” pintanya.

Dahi Hyoki mengernyit, “Tolong apa ?” tanyanya.

Sebuah kertas terulur padanya, “Berikan ini pada Yeon Sung…Katakan ini surprise dariku, otte ?” Hyoki menahan senyum, membuat Donghae kebingungan melihat respon gadis itu.

“Kenapa tidak berikan sendiri, dasar pemalu” goda Hyoki mengambil kertas itu dari tangan Donghae.

Donghae menggaruk tengkuknya, “Tidak akan seru kalau aku yang berikan, jebal” kali ini ia mengatupkan kedua tangannya.

Hyoki mengacungkan jempol, “Okay, nanti ku berikan padanya…Aku berencana untuk lewat depan rumahnya hari ini” ia mengamankan kertas itu ke dalam tasnya. “Aku pulang duluan, langit mendung dan aku tidak mau kebasahan”

Pluk.

Hyoki meraba kain halus diatas kepalanya, hoodie milik Donghae. “Pakailah, supaya tidak basah…Aku tidak mau kertas itu rusak hanya karena terkena air hujan” candanya.

Hyoki menggembungkan pipinya kesal, “Ara ! Akan ku pastikan surat ini sampai dengan aman ditangan Yeon Sung !

————

Yeonsung masih terdiam ditempatnya. Matanya masih terarah pada sosok Donghae yang duduk manis sambil tersipu. Ada rasa aneh yang menyelusup tanpa izin ke dalam hatinya, hadiah yang dipegangnya sudah kusut karena diremas. Menyalurkan rasa sesak yang datang dari kejadian yang dilihatnya tadi.

“Tidak butuh hadiah dariku” gumamnya. Yeonsung tertawa pahit, “Yeonsung bodoh, dia hanya menganggapmu sebagai teman, tidak lebih”

Awan mulai bergemuruh, menandakan bahwa butiran-butiran air sebentar lagi akan jatuh membasahi bumi. Yeonsung bisa melihat Donghae yang mengadahkan kepalanya ke arah langit dengan raut wajah khawatir—tidak seperti biasanya yang selalu menyambut hujan dengan bahagia. Donghae merogoh kantongnya, mengeluarkan ponsel dan mengetikkan beberapa bait pesan—Yeonsung menebak dari jari-jari Donghae yang bergerak lincah diatas keypad.

“Hyoki” desis Yeonsung, karena disaat yang bersamaan—Donghae menatap kado yang diberikan Hyoki.

Yeonsung melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolah Donghae, gerimis mulai turun dan meninggalkan jejak dibaju sekolahnya. Yeonsung mendekap erat hadiah untuk Donghae, melindunginya agar tidak basah oleh hujan. Langkahnya semakin melambat seiring dengan hujan yang turun semakin deras.

Aneh, mengapa hujan terasa hangat di pipinya ? Tangan Hyoki menyapu wajahhnya, tidak ada yang aneh. Tapi semakin lama semakin terasa hangat, Yeonsung menggigit bibir bawahnya kuat…Bukan air hujan yang terasa hangat di pipinya tapi itu airmatanya. Yeonsung menangis ditengah hujan.

“Yeonsung ! Kenapa menangis ? Dasar cengeng” lagi-lagi ia berbicara dengan dirinya sendiri. Baginya menangis adalah hal yang tak ingin dilakukannya. Yeonsung benci menangis karena ia hanya menangis ketika mengingat orang tua kandungnya, ketika Minho kecelakaan dan sekarang ? Hanya karena seorang Lee Donghae air matanya jatuh bercampur dengan air hujan.

“Dasar aneh” gumam sebuah suara dibalik punggung Yeonsung.

Donghae berdiri dengan sebuah payung ditangannya, dia melihat Yeonsung tadi dan bergegas meminjam payung lalu mengejar gadis itu. “Kau tidak akan menikmati hujan kalau hanya diam dan menunduk saja”

Yeonsung mendelik, “Ini caraku menikmatinya” ujarnya sinis.

Donghae menunjuk hadiah yang di dekap Yeonsung. “Ini apa ?” tanyanya.

“Sampah” jawab Yeonsung santai.

“Kalau sampah, kenapa sampai dilindungi ?” goda Donghae.

Yeonsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka sampai menemukan sebuah tempat sampah. Ia melempar hadiah itu ke tempat sampah membuat mata Donghae terbelalak kaget.

“Yak…Yak! Kenapa kau buang ?!”

“Sudah ku bilang itu sampah” Yeonsung menyahut datar dan berjalan membelakangi Donghae.

Donghae menarik tangan Yeonsung dan mencengkramnya erat, “Kenapa ?” tanya Donghae serius.

Yeonsung menatap mata Donghae lama, “Aku mau pulang Donghae-ssi” ujarnya berusaha melepaskan cengkraman Donghae.

“Jangan bohong Sung-ah” suara lembut Donghae membuat hati Yeonsung semakin pilu.

“Mianhe, tapi aku benar-benar harus pergi !” cengkraman Donghae mengendur. Ia melepaskan jaketnya dan menyampirkannya ke kepala Yeonsung.

Yeonsung menitikkan airmata, “Berhenti bersikap baik padaku Donghae-ya, jangan perlakukan aku seperti kau memperlakukan Hyoki, aku bukan Hyoki…Aku Yeonsung” gumamnya lirih.

“Apa ? Suaramu tidak terdengar Sung-ah” Donghae menunduk, berusaha mendengarkan suara Yeonsung.

Yeonsung menggeleng lemah, “Annyeong” pamitnya mengembalikan jaket Donghae lalu berlari meskipun Donghae memanggil dan mengejarnya

————-

Hujan turun lagi—kali ini berupa rintik-rintik, Yeon Sung masih tetap berjalan dengan langkah gontai sembari mendengarkan lantunan lirik ‘rain drop’.Donghae sudah tidak mengejarnya, biarlah…Toh dia memang ingin sendiri sekarang.

“Hyo Ki—“ gumam Yeon Sung, ia ingin tertawa sekarang, menertawakan kebodohan dirinya salah mengartikan perhatian Donghae selama ini.Semua kata-katanya di taman waktu itu, janji bahwa dia akan menggantikan ‘hujan’.

“Dia memang menggantikan hujan, tapi tidak seluruhnya…Pada akhirnya dia juga bertindak seperti hujan” ujarnya lirih.

Yeon Sung merasa badannya lemas, memang. Hujan sudah membuatnya sakit, tapi sakit yang dia rasakan di hatinya lebih menyakitkan dari yang dia rasakan ditubuhnya. Ini sakit yang dimaksud Minho, alasan mengapa Minho melarangnya menyukai hujan, karena suatu hari nanti dia akan sakit karena hujan.

Karena hujan merenggut orang tuanya,

Karena hujan mencelakakan kakak kesayangannya,

Karena hujan mempertemukannya dengan Donghae,

Karena hujan—dia menangis..

 

“Hatchi~!” ia menggosok-gosokkan tangannya yang dingin, mantel tebal yang dikenakannya seakan tak cukup menghilangkan hawa dingin ditubuhnya.

 

Oh rain drop, Oh rain drop

Love is so heartless

Oh rain drop, Oh rain drop

Love is like raindrop

Coldly, it drenches me

Seseorang melambai kearah Yeon Sung, dengan sebuah payung di tangannya. Matanya menyipit, berusaha mengenali sosok itu, namun kesulitan karena matanya kabur karena genangan airmata yang siap jatuh karena mendengar lirik lagu tadi.

Usaha Yeon Sung mengenali sosok itu seakan sia-sia, karena saat sosok itu berlari ke arahnya ia merasa pandangannya semakin kabur dan akhirnya gelap.

————-

Oh rain drop, Oh rain drop

Love is so heartless

Oh rain drop, Oh rain drop

Love is like raindrop

Coldly, it drenches me

Yeon Sung merasakan pening dikepalanya, “Sudah bangun ?” matanya terbelalak mendengar suara baritone tersebut. Siwon duduk disampingnya sambil tersenyum, pintu terbuka dan Hyo Ki masuk dengan semangkuk bubur.

“Kau ada dirumah Siwon-sshi…Ini, makan dulu, supaya cepat sembuh” senyum manis terkembang diwajahnya. Yeon Sung tersenyum miris, pikirannya kembali ke kejadian tadi siang, saat Donghae menerima kado dari Hyo Ki dan Hyo Ki menerima surat beramplop pink dari Donghae,

“Aku panik melihatmu pingsan tadi, dan aku segera menghubungi Hyo Ki tadi—dia membantuku mengurusmu” terang Siwon.

Siwon membantu Yeon Sung menegakkan badan, mengambil bubur dari nampan dan menyuapkan beberapa sendok bubur ke Yeon Sung.

Blackberry Siwon berbunyi sebuah telepon masuk, “Hyo Ki-yah…Help me please” Hyo Ki duduk di depan Yeon Sung dan menggantikan Siwon menyuapinya dengan telaten. Tatapan Yeon Sung tak pernah lepas darinya, “Siwon-ssi benar-benar perhatian padamu ya” gumam Hyo Ki pelan.

“Jincha ?” tanya Yeon Sung.

Hyo Ki mengangguk, “Dibandingkan dengan Donghae ?” perkataan itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir Yeon Sung. “Donghae-ssi ?” tanya Hyo Ki bingung.

“Ya, Donghae dan Siwon—yang mana yang lebih baik menurutmu ?” tanya Yeonsung.

Hyo Ki meletakkan mangkuk buburnya di atas meja kecil, perasaannya tidak enak terlebih lagi melihat tatapan Yeon Sung yang—cemburu ?

“Yeon Sung-ssi apa ya—“

“Pasti Donghae bukan ?” potong Yeon Sung cepat, “Bukan kah Donghae lebih baik dari pada Siwon Oppa ? Karena Donghae menyukaimu…” Airmata Yeon Sung mulai menggenang lagi.

Hyo Ki terlihat bertambah bingung, “Aku rasa kau salah paham, aku dan dong—“ Hyo Ki merogoh tasnya lagi, mengeluarkan kertas yang tadi diberikan Donghae padanya, “Ini su—“

Yeon Sung menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berdiri, “Aku mau pulang—“ ujarnya menepis tangan Hyo Ki yang berusaha menahannya.

“Kau mau kemana ?” suara itu menghentikan langkah Yeon Sung, Donghae berdiri di depan pintu diikuti Siwon dibelakangnya.

“Pulang” jawab Yeon Sung singkat. Ia berjalan tertatih melewati Donghae dan kini berhadapan dengan Siwon, “Ikut aku—“ Siwon menarik Yeon Sung meninggalkan Donghae dan Hyo Ki.

——

Hyo Ki mendesah sambil meniup poninya, sudah satu jam ia menunggu Yeon Sung dan Siwon berbicara secara empat mata.  Pintu terbuka, Yeon Sung masuk dengan Siwon yang memapahnya kembali ke kasur.  “Sudahlah, biarkan dia istirahat…Hyo Ki-yah tolong jaga dia” Siwon menarik Donghae keluar dari kamar.

“Mianhe” gumam Yeon Sung, “Gwenchana” balas Hyo Ki yang kini memperbaiki posisi duduknya menghadap Yeon Sung.

“Aku rasa siwon Oppa benar-benar beruntung” desah Yeon Sung,

“Mworago ?” tanya Hyo Ki lagi. “Aniya, menurutmu Siwon oppa itu bagaimana ?” pertanyaan Yeon Sung sedikit aneh untuk Hyo Ki.

“Marhaebwa~~” bujuk Yeon Sung.

Hyo Ki berfikir sejenak, senyum terkembang di wajahnya mengingat pertemuan demi pertemuannya dengan Siwon. “Perhatian—entahlah, kurasa dia perhatian ke semua orang” ujarnya mengangkat bahu.

Yeon Sung mendesah lagi, “Yang dikatakannya memang benar, mianhe Hyo Ki-ssi” Yeon Sung membungkukkan badannya kearah Hyo Ki.

“Yeon Sung-ssi aku ti—“ belum selesai Hyo Ki berbicara, Yeon Sung langsung berbalik memunggunginya, “Aku tidur dulu, annyeong~” ujarnya menarik selimut meninggalkan Hyo Ki yang kebingungan.

——-

Yeonsung pulang saat Minho menjemputnya di rumah Siwon. Saat tiba di rumah, Minho menyerahkan sebuah tas yang sudah lusuh kepada Yeonsung.

“Ini barang-barang Ibumu, kami menemukannya tas yang dikenakan ibumu saat kecelakaan beberapa tahun silam” Yeon Sung membuka tas yang sudah lusuh tersebut.Dia menemukan sebuah diary, dan dompet, “Ini eomma dan appa~” foto orang tuanya sedang menggendong Yeon Sung kecil.

“Uljima~~” Minho mendekap Yeon Sung dari belakang, mencoba menenangkan adik kesayangannya.

Yeon Sung mengangguk lalu melepaskan pelukan Minho, “Oppa, aku mau kembali ke kamar” katanya melambaikan buku diary yang ada ditangannya.

Lembar demi lembar Yeon Sung baca, Ibunya banyak bercerita tentang masa lalunya disitu.Salah satunya kisah dimana beliau bertemu dengan jodohnya—Ayah Yeon Sung.

Aku dari dulu benci hujan…Tapi, dia selalu datang disaat hujan alasannya karena dia adalah malaikat penurun hujan..

Dasar bodoh~~!!

Lembar berikutnya,

Kami bertemu di taman lagi—kali ini dia beralasan kalau dia mau mengembalikan sesuatu milikku yang berharga—tapi apa ?

Dia benar-benar mengembalikan milikku yang telah hilang, ‘Senyumku’ ^____________^

Dia..

Dia, yang selalu menghapus airmataku,

Dia, yang selalu membuatku tenang..

Karena sekarang dia adalah hujanku❤

“Donghae” nama itu terlontar dari bibir Yeon Sung, ia kembali membuka halaman demi halaman hingga pandangannya tertuju pada sebuah halaman.Ada sebuah foto yang terselip, “Tempat dimana aku menemukan ‘Hujan’”

Yeonsung mengelus foto itu lembut, tiba-tiba teringat dengan ucapan Siwon padanya.

“Kau salah paham, hadiah yang Hyoki berikan pada Donghae itu untukku…Hyoki sama sekali tidak tertarik dengan Donghae…”

Tangannya kini membuka lipatan kertas yang tadi Hyoki berikan padanya—dari Donghae dan Donghae ingin Yeon Sung membacanya.

How to find ‘Yii’

Ikuti petunjuk di peta ini dan kau akan menemukan ‘hujan’ mu ^____^

Yeonsung menimang-nimang kertas ditangannya, kertas itu adalah sebuah peta yang harus diikuti Yeonsung untuk menemukan hujannya. Haruskah ?

———

Yeonsung mengikuti peta yang diberikan Donghae, jarak yang ia tempuh lumayan jauh dan berliku apalagi diiringi dengan gerimis yang mulai turun. Ia sedikit mengumpat karena lupa membawa jaket atau apapun yang bisa menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil.

Langkahnya terhenti di depan hamparan ilalang, tujuannya ada dibalik hamparan illalang tersebut. Tapi bagaimana dia bisa kesana dengan tangan kosong dan tanpa cahaya ?

Pluk.

Sebuah senter menggelinding kearah Yeonsung, ia berjongkok dan mengambil senter itu. Tidak ada seorang pun disekitarnya, hanya ada desiran angin yang meniup ilalang. Yeonsung menghela nafas sambil menyalakan senter, “Hwaiting” ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

—————

A few hours ago…

Hyoki melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul tujuh malam padahal hari ini adalah 4 tahun peringatan kematian Taemin. Biasanya ia akan menghabiskan waktu dimakam sambil mengenang kenangan masa lalunya bersama Taemin. Tetapi karena kejadian tadi siang yang mengharuskan Hyoki menjaga Yeonsung hingga dijemput oleh oppanya, Hyoki menunda ziarahnya ke makam Taemin hingga sekarang.

Langit terlihat sangat gelap tanpa bintang, karena sebentar lagi akan turun hujan. Hyoki masih tetap ingin mengunjungi makam Taemin sesegera mungkin sebelum hujan turun. Ia menolak tawaran Siwon untuk mengantarnya, karena ia ingin berada ditempat itu seorang diri.

“Aissh” decak Hyoki kesal ketika butiran butiran air mulai jatuh dari langit. Ia enggan berbalik kerumah Siwon—yang hanya berjarak beberapa meter dari balik punggungnya—hanya untuk meminjam payung. Hyoki lebih memilih untuk berteduh di sebuah bangunan ruko yang sudah tua sambil menunggu hujan reda. Ia mengamati rintik rintik hujan yang semakin lama semakin deras.

“Bisa tidak kau tidak mengacaukan hariku sekali saja, hujan” tanyanya lirih. “Kau sudah memisahkanku dengan Taemin dan sekarang kau menghalangiku untuk menemuinya” desisnya.

Setelah menunggu selama setengah jam Hyoki memutuskan untuk menerobos hujan. Kali ini ia tidak mau mengalah pada hujan. Tidak perduli bajunya basah karena terkena hujan bahkan tubuhnya menggigil, Hyoki tetap meneruskan perjalanannya hingga sampai di makam Taemin.

Makam Taemin terletak di atas bukit dan hanya ada pencahayaan seadanya. Hyoki merapikan rambutnya sebelum mendaki bukit dan bertemu dengan Taemin.

“Taeminnie annyeong~” sapa Hyoki begitu tiba didepan makam Taemin. “Kali ini aku tidak membawa apa-apa, karena…….Yah kau taulah, banyak hal yang terjadi siang ini. Dan lagi lagi hujan menjadi penyebab utamanya. Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Termasuk soal pria itu.” Hyoki terus bercerita sambil menyeka air matanya yang jatuh karena kerinduannya terhadap kehadiran Taemin.

“Kapan aku bisa mengikhlaskanmu, Taeminnie?” sesaat keadaan menjadi hening. Hanya suara rintikan hujan yang terdengar.  Hyoki merasa tidak ada air yang jatuh diatas kepalanya. Dengan cepat ia menoleh dan menemukan sosok Siwon yang sedang memayunginya.

Siwon tersenyum kearah Hyoki dan berkata, “Kau akan cepat mengikhlaskannya jika kau mau membuka hati untuk pria lain, Hyoki-ya. Bukankah sudah saatnya kau untuk melihat kedepan tanpa harus terpaku dengan masa lalumu itu?”

Hyoki terdiam mendengar perkataan Siwon. Ia tersinggung. Menurutnya, Siwon tidak berhak untuk mencampuri urusannya. “Siapa yang memintamu untuk mencampuri urusanku, Siwon-sshi?”

Ia lalu beranjak  dan menatap Siwon dengan tatapan sinis, “Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berarti bagimu. Kau hanya tuan muda yang selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan. Tetapi terima kasih atas saranmu Siwon-sshi, tapi aku tetap melanjutkan apa yang sudah ku jalani selama ini. Lebih baik kau pergi dari tempat  ini.”

Siwon menuruti permintaan Hyoki namun sebelum itu ia meraih tangan Hyoki dan menyerahkan payung miliknya.

Sesaat setelah Siwon pergi Hyoki bergumam “Kau lihat sendiri kan, Taeminnie? Betapa menyebalkannya dia, tapi……” perkataan Hyoki terputus ketika mendengar suara decitan rem mobil yang beradu dengan aspal. Pikiran Hyoki kembali ke 4 tahun silam, dihari yang sama saat ia kehilangan Taemin.

Entah dorongan apa yang membuat Hyoki berlari menuruni bukit. Ingatannya kembali ketika ia pertama kali bertemu dengan Siwon. Ketika Siwon menyerahkan jaketnya untuk Hyoki, mengobati lukanya, dan ketika Siwon berusaha menggantikan tempat Taemin dihati Hyoki.

Hyoki sampai dibawah dengan nafas yang terengah-engah, ia mendapati Siwon sedang berdiri disamping mobilnya tanpa menyadari kedatangan Hyoki. Ia pun mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Siwon dari belakang. Ada perasaan lega saat ia memeluk Siwon karena firasat buruknya tidak terbukti.

Siwon ingin memutar tubuhnya karena mendengar isak tangis Hyoki. Ia khawatir dengan keadaan Hyoki saat ini.

“Jangan berbalik” gumam Hyoki yang masih memeluk erat Siwon.

Siwon menunggu  hingga isakan Hyoki mereda dan pelukannya mengendur. Lalu ia berbalik dan merengkuh wajah Hyoki dengan kedua tangannya. “Uljima~” ucap Siwon.

Hyoki memegang tangan Siwon yang masih menempel di wajahnya, “Mianhae~ ternyata perkataanmu ada benarnya juga. Aku memang harus membuka hatiku untuk orang lain ah…aniyo, hatiku memang sudah terbuka saat kau mencegahku melihat kecelakaan itu untuk kedua kalinya.”

Siwon sedikit membungkukkan badannya lalu mencium kening Hyoki. “Terimakasih~” Hyoki tersipu. Ia berjingkat lalu berbisik, memberi tahu rencana Donghae untuk Yeonsung yang akan mereka jalankan malam ini.

—————-

Sementara itu Yeonsung masih mencari ‘hujan’nya ditengah padang ilalang seorang diri. Yeonsung memegang erat senternya ketika mendengar suara-suara aneh dari arah belakang. Bagaimana kalau ternyata ada hewan buas yang mengintainya ?

Ia mempercepat langkahnya keluar dari padang ilalang dan tiba di tepi danau. Yeonsung memandang kagum hamparan danau yang ada dihadapannya.

Tiba tiba Yeonsung dikejutkan oleh lampu yang menyala disisi kanan dan kiri jembatan kecil menuju ke tengah danau. Awalnya ia tidak menyadari ada sebuah jembatan kecil yang menghubungkan daratan tempat ia  berpijak dengan pondok kecil yang berada ditengah danau.

Ia bisa melihat ada seseorang yang melambai kearahnya. Namun Yeonsung tidak bisa melihat jelas siapakah orang itu.

Akhirnya Yeonsung memutuskan untuk mendatangi pondok itu, diiringi dengan rintik hujan yang mulai mereda.

Ternyata sosok yang melambai kearahnya tadi itu adalah Donghae, lengkap dengan hoodie dan topi baseball hitam yang gagal diberikan Yeonsung padanya. “Kau…. Bagaimana bisa….”

“Di tempat sampah” sahut Donghae cepat. “Aku menemukan bungkusan yang berisi hoodie dan topi ini bersamaan dengan kartu ucapan ini” ia memamerkan kartu ucapan yang di tulis Yeonsung untuk Donghae.

“To…My…Rain…” Donghae mulai membaca isi kartu itu dengan nyaring. “Happy Valentine, Terima kasih atas—“ Yeonsung dengan cepat berusaha menyambar kartu itu. Namun Donghae lebih cekatan dan menjauhkan kartu itu dari hadapan Yeonsung.

Yeonsung berjingkat berusaha mengambil kartu itu, “Dasar pendek” cibir Donghae. Selagi Yeonsung berjingkat berusaha merebut kartu itu dengan kedua tangannya, Donghae memanfaatkan kesempatan ini untuk segera merengkuh pinggang Yeonsung dan menariknya mendekat.

“KYAAAA~~!!” Yeonsung memekik kaget. Ia meronta ronta agar Donghae mau melepaskan pelukannya. Donghae akhirnya mengalah dan melepas pelukannya dipinggang Yeonsung.

Donghae lalu berlutut dihadapan Yeonsung “Choi Yeonsung, Would you be my rain…?” Yeonsung menatap kedalam mata Donghae yang teduh. Ia masih ragu apakah Donghae benar benar menginginkan dirinya atau tidak. Namun keraguan itu segera di tepisnya.

Yeonsung menyambut uluran tangan Donghae dan memintanya berdiri. Ia lalu memeluk Donghae dan berkata, “Yes, I would…… yii~” Donghae membalas pelukan Yeonsung.

“Tapi yii, darimana kau tau soal tempat ini?” tanyanya. Donghae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Sebenarnya aku mendengar pembicaraanmu dengan wanita dikafe itu. Melihat wajahmu yang sumringah ketika membicarakan tentang foto di danau itu, aku langsung memutuskan untuk mencari tau tentang tempat ini dan ingin merayakan malam valentine ini bersamamu.”

Yeonsung tertawa mendengar penjelasan Donghae. “Kurasa tempat ini memang bersejarah untukku.”

Alis Donghae saling bertaut “Maksudnya?” Yeonsung mengeluarkan sebuah foto dari kantongnya dan menunjukkannya pada Donghae. Awalnya, Donghae melihat foto itu dengan tatapan biasa, karena foto yang disodorkan Yeonsung adalah foto yang sama yang mereka lihat dikafe beberapa hari yang lalu. Namun, ketika Yeonsung membalik foto itu, mata Donghae terbelalak membaca pesan yang tertulis disitu.

Yeonsung mengangguk, “Ternyata, sepasang kekasih yang ada difoto ini adalah ayah dan ibuku. Dan tempat ini adalah tempat dimana mereka pertama kali bertemu”

Donghae terkejut namun kembali memasang wajah biasa. Pandangannya teralih kearah jembatan, Hyoki dan Siwon berlari kecil menghampiri mereka.

“Bagaimana mungkin kalian disini ?” Yeonsung terkejut.

Hyoki menjawab, “Kami membantu Donghae, senter dan suara berisik yang kau dengar tadi adalah ulah kami”

Yeonsung mengangga sementara Donghae hanya bisa terkekeh. Siwon lalu mengambil kamera polaroidnya dan berkata, “Ayo kita abadikan momen ini” ujarnya.

Mereka saling merapat satu dengan yang lain ketika Siwon mulai menghitung mundur, “Hana…Dul…Set !”

——-

Yeonsung menempelkan foto di malam valentine itu di buku diary milik ibunya. Tepat di lembar terakhir ibunya menulis diary. Di halaman sebelumnya Yeonsung menemukan beberapa foto yang diambil saat ia masih kecil di pondok danau itu.

Pondok itu adalah pondok yang dibangun Ayah Yeonsung sebagai hadiah anniversary pernikahan mereka. Yeonsung dan Ibunya sering mengunjungi Ayah Yeonsung saat berkonsentrasi membangun pondok itu.

Menurut tulisan tangan di diary tersebut, Yeonsung dan keluarganya baru saja pulang dari meresmikan pondok itu sebelum kecelakaan itu terjadi. Yeonsung tidak menemukan catatan lain setelah ibunya menulis tentang kebahagiannya saat pondok itu selesai dibangun, jadi ia menyimpulkan bahwa kecelakaan itu terjadi saat mereka baru akan pulang kerumah.

Setelah malam valentine itu, Yeonsung dan Donghae serta Hyoki dan Siwon resmi menjadi sepasang kekasih dan pondok itu menjadi tempat favorite mereka berempat.

Pondok itu mereka beri nama ‘Yii’ yang berasal modifikasi kata ‘bi’ yang berarti hujan.

Hyoki tidak lagi takut dengan hujan—memang masih merasa sedikit terganggu dengan hujan namun rasa bencinya sudah mulai berkurang karena Siwon selalu berada disisinya.

Minho sudah memulai aktifitas klub basketnya, luka-luka yang di deritanya sudah sembuh dan bahkan sekarang ia menemukan seorang gadis bernama Kim Chan Hyo—seorang siswi sekolah keperawatan yang jenius.

Sementara Yeonsung dan Donghae ? Mereka masih tetap sama, menyukai hujan karena mereka percaya Hujan tak seburuk yang orang bayangkan.

Hujan mungkin memisahkan Hyoki dengan Taemin dan merengut nyawa kedua orang tua Yeonsung tapi hujan jugalah yang mempertemukan kedua gadis itu dengan para pendamping hidup mereka.

Jadi, sebenarnya hujan tidak seburuk itu bukan ?

===THE END==

8 pemikiran pada “When The Rain Falls : The Last Rain

      • pasti oppa sayang unyu muah sama itu si perawat cerdasssss~~ perawat cerdas itu sdh punya paman ummaa~` gausah dilanjut tau kekeke *evilsmirk*

  1. komen lagi ya mom, baru baca lagi nih abis tadi di gangguin yeon cempreng pas baca kekekeke. sebenernya sedih wtrf tamat kaya tamatnya harry potter #eaaa setelah sekian lama menunggu akhirnya terbayar sudah the last rain ini bwahahahaha btw kok hyoki…………..agak mirip kaya aslinya, jutek /akhirnya ngaku/ lol. Btw Yeon, skrg kita udah gak jelly-jelly-an kan? :3 thanks a million ya mom🙂 yeon juga yg udah bantuin mommy hyori ngetik hahahahaha <3<3<3

    • kau tidak tau bagaimana yeon ngakak guling2.. katanya hyoki wtrf beda sama aslinya .____.
      cih,
      mentang2 suda nntn harpot ! nda ngajak2 u.u nda ngajak2 u.u

      okaaaay you’re welcome hyoki bunny bebeh (?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s