[oneshoot] Her eyes

Standar

Title: Her Eyes

Author: chiqCQ

Casts:  Park Jieun

Genre: Angst

Length: Oneshoot

 

Seorang ibu, taukah kalian seberapa besar kasihnya kepada kita? Seberapa sabar dia membesarkan kita? Menghidupi kita? Dan mendidik kita? Taukah kalian dosa besar kita yang telah membiarkan air mata keluar dari mata lembutnya atas perbuatan dan ucapan kita.

 

“jieun ah, jieun ah~ neo eodiya?”

panggilan lembut seoarang wanita memenuhi rumah kecil itu. Wanita itu sibuk mencari putrinya yang sejak tadi tidak terlihat.

“jieun, jawab eomma kau dimana?”

wanita itu masih menelusuri rumah kecilnya, ketakutan menyelimutinya jika terjadi sesuatu pada putrinya, anak itu tidak pernah keluar dari rumah tanpa nya

Sreeekk~

suara pintu geser yang terbuka terdengar dari luar, wanita itu dengan cepat berlari keluar kamar.. “jieun-ah!” teriaknya panic, nafasnya tersengal-sengal, dilihatnya putrinya berdiri di depan pintu dengan seragam sekolahnya yang lengkap.

Wanita itu merutuki dirinya sendiri, kecemasannya dari tadi sungguh tidak beralasan dia lupa bahwa hari ini putrinya itu bersekolah,

wanita itu melangkah mendekati putrinya, “kau sudah pulang, ayo cepat ganti pakaiaanmu eomma sudah membuatkan makanan kesukaanmu” katanya sambil membantu putrinya membawa tasnya.

“lepaskan! aku bisa sendiri” ucapnya ketus sambil menarik kasar tasnya dari eommanya. Wanita itu tersenyum pahit

“baiklah kalau begitu eomma akan menunggumu, kita makan sama-sama” ucapnya lembut sambil membelai rambut putrinya.

Bukannya sebuah senyuman yang ia dapatkan melainkah wajah tak acuh yang di perlihatkan oleh jieun, jieun mengalihkan wajahnya tidak menatap kearah eommanya

“tidak usah repot-repot menungguku, aku sudah makan di sekolah tadi, makanlah sendiri” jawabnya sambil berlalu meninggalkan eommanya.

Wanita itu terdiam lesu di depan pintu, air mata hampir jatuh tapi ia menahannya, ia berusaha tersenyum tegar dan melangkahkan kakinya kearah dapur.

*************

Wanita itu menatap meja makannya miris, begitu sepi, jieun yang biasanya menemaninya makan tidak ada. Sekilas ia teringat kenangan masa lalu ketika jieun masih berumur 10 tahun.

Panggilan kecilnya padanya, saat jieun memaksa untuk menyuapkan sesendok nasi kepadanya, ke luguan jieun dan keramahannya, anak itu berubah semenjak ia menginjak usia 16 thn.

Ia bertingkah kasar bahkan seperti menggangap eommanya tidak ada.

lamunan wanita itu dibuyarkan oleh suara pintu yang dibuka, dilihatnya jieun dengan pakaian yang sangat tidak wajar, wanita itu menghampirinya “jieun-ah kau mau kemana?” tanyanya

“bukan urasanmu sana lanjutkan makanmu” jawab jieun kasar, ia sudah bersiap meninggalkan eommany tapi wanita itu menahannya

“ani, kau tidak boleh keluar dengan pakaian pendek seperti ini jieun-ah kau bisa masuk angin, tunggu disini” wanita itu bergegas masuk kemarnya dan mengambil mantel panjang yang sudh tua setidaknya bisa menutupi tubuh putrinya itu.

“ini, pakai ini jadi kau tidak akan kedinginan” ucapnya sambil memakaikan mantel itu ke jieun.

Jieun menatap jijik kea rah mantel itu “lepaskan! Aku tidak mau pakai mantel lusuh ini” ucapnya kasar, ia mendorong eommanya hingga terjatuh dan melemparkan mantel itu kearahnya,

“kalau kau suka kau saja yang pakai” teriaknya kasar dan meninggalkan eommanya sambil membanting pintu.

Wanita itu terduduk lemas, air mata sudah tak kuasa ditahannya ia menangis sambil memeluk erat mantel itu, “jieun ah, jieun ah” tangisnya pecah di rumah kecilnya itu dia terus menangis sambil memanggil nama putrinya ‘ji eun’.

*************

“tuhan, ku mohon padamu lindungi dia, lindungi putriku” pintanya dengan mata yag lebam, wanita itu menatap kearah langit, “jika kau ada disini, jieun pasti tidak seperti ini…yeobo” tanpa ia rasa air mata mulai mengalir lagi dari matanya “mengapa kau pergi lebih cepat meninggalkan kami hanya berdua” aliran air matanya kian deras dan membasahi pipinya yang bahkan belum kering.

Jarum jam sudah menunjuk kearah jam 1 malam, tapi jieun tidak kunjung datang, ia menunggunya seharian dan terus berdoa agar putrinya itu dilindungi.

Suara ribut-ribut terdengar dari arah luar rumahnya, wanita itu bergegas keluar melihat apa yang terjadi, dan yang ia dapati adalah putrinya dalam keadaan mabuk dengan di bopong oleh dua orang pemuda yang sama mabuknya.

Wanita itu marah bukan main ia menghampiri putrinya cepat

“jieun-ah!!!” teriknya “lepaskan tangnmu dari anakku!” teroiaknya sambil mendorong kedua pemuda itu jatuh yang membuat jieun pun ikut terjatuh,

wanita itu mendekati anaknya dan berusaha membantu putrinya berdiri, tapi jieun malah mendorongnya menjauh darinya “pergi kau wanita tua, aku bisa berdiri sendiri” teriaknya.

Tidak peduli apa yang dikatakan jieun wanita itu ngotot dan tetap mendekati jieun untuk membantunya, pikirnya itu tadi buka jieun dia dalam keadaan mabuk, dia pasti tidak melihatku tadi pikirnya.

**************

Jieun terhempas ke lantai, ia terbaring dengan keadaan mabuk. Tanpa ia sadari eommanya sibuk membersihkan dirinya, menyelimutinya dengan hangat, jieun bisa merasakan kehangatan itu, kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Tanpa perintahnya air mata keluar dan membuat sungai kecil dimatanya, “sial, kenapa hidupku seperti ini?” rutuknya.

Flashback

2 tahun yang lalu

“ahaahha dasar bodoh kau pikir kau bisa berteman dengan kami, haahh!!” cacian itu kembali terdengar, diiringi dengan lemparan telur busuk dan sampah kerahnya, jieun menatap kasar kearah orang-orang yang melemparinya, ia mendatangi mereka dengan tatapn mata yang menakutkan.

Jieun menampar mereka dengan kasar “kau boleh melempariku dengan telur busuk dan sampah tiap hari tapi jangan pernah menghina eommaku dasar busuk!” teriaknya kencang sambil memukuli gadis itu

Gadis itu menangis dan semakin kencang, jieun tidak menghiraukannya dan terus memukulinya hingga eomma anak itu datang dan berbalik memukul jieun “dasar anak sial, beraninya kau memukul anakku”

“itu salahnya, karna telah menghina eommaku” teriak jieun tidak mau kalah

“aku kan tidak berbohong aku hanya mengatakan kenyataan, eommamu wanita murahan!” ucap gadis itu dalam isak tangisnya

Jieun makin marah dan menghampiri gadis itu berniat memukulinya, tapi di seorang guru datang dan menghentikannya. “hentikan jieun.ssi kau bisa membunuhnya nanti” tahan salah seorang guru mencoba menenangkannya.

“yaa anakku tidak bohong, dengarkan aku park jieun.ssi, hahh– kau bahkan memakai marga ibumu, apa kau masih tidak mengerti? eommamu adalah wanita panggilan, dan kau adalah salah satu anak haramnya, kalau kau memang bukan anak haram, kenapa kau bermarga sama dengan ibumu? “ jelas eomma gadis itu.

Jieun terdiam tidak sanggup membalas kalimatnya, tidak ada satupun kalimat yang terangakai di otakknya. Ia ingat ketika ia bertanya dimana appanya eommanya hanya menjawab “dia ada di tempat yang jauh jieun ah, bahkan kita berdua tidak bisa kesana”

Jieun terduduk lemas, berharap semuanya mimpi, tapi apa yang mereka katakan terlihat sangat benar.

End of flashback

 

Air mata kembali mengalir di pipi jieun “aku adalah anak haram, yaa aku anak haram” ucapnya dalam tidurnya sambil menangis

Eommanya yang mendengar itu menangis tertahan, ia tidak ingin membangunkan jieun.

************

“jieun ah kau sudah bangun? Ahh baguslah eomma sudah menyiapkan sarapan untukmu”

wanita itu mendekati jieun dan membelainya lembut

“jieun ah kau adalah anak eomma kau harus ingat itu”

jieun tidak merespon, wanita itu berharap jieun bisa kembali menjadi jieun yang dulu.

Wanita itu memegang rambut panjang jieun dan menatanya rapi, ia sisir perlahan dan mengikatnya rapi “kau ingat, dulu kau sangat suka jika eomma menguncir rambutmu seperti ini” jieun masih terdiam, wanita itu tidak patah semangat, ia terus mengajak jieun berbicara walau pun tidak ada sedikitpun respon darinya.

“jieun ah percayalah pada eomma, eomma akan selalu menemanimu, karna eomma sangat menyayangimu, eomma akan selalu melindungimu sampai darah ditubuh eomma tidak mengalir lagi” ucap wanita itu lembut sambil mendekap jieun dari belakang.

Hal itu tanpa disadari oleh jieun membuat air matanya mengalir, ia melepaskan pelukan eommanya dan berlari keluar meninggalkan rumahnya, ia terus berlari dengan mata yang berair tanpa menghiraukan eommanya yang terus meneriaki namanya memintanya untuk kembali

Tangisanya makin deras ketika sekelabut ingatan masa lalunya bersama eommanya terputar didalam otaknya, dan itu membuat ia berhenti tepat di tengah jalan, tidak ia hiraukan panggilan orang-orang padanya yang memintanya untuk menjauh.

Otaknya dipenuhi denga eommanya.

“jieun ah!!”

Teriakan eommanya terdengar menggema di ottaknya, ia kembali sadar tapi sudah terlambat, sebuah mobil truk besar menghantam tubuhnya dan melempar tubuhnya lebih jauh.

*************

“kumohon jangan ambil nyawanya dokter kumohon”

“_________”

Wanita itu memegang tangan sang dokter, “kumohon dokter, tidak apa jika aku, biarkan dia hidup”

Dokter itu mengganguk “aku akan berusaha untuk kalian berdua nyonya”

____________________

Jieun membuka matanya perlahan, sinar matahari pagi menusuk masuk kedalam bola matanya, sekelilingnya putih, rumah sakit ini terlihat begitu bersih dan putih, jieun melihat sekelilingnya tapi ia tidak menemukan orang yang ingin dia temui, ia ingin melihatnya, melihat dirinya yang selalu khawatir dan merawatnya.

“anda bisa melihat dengan baik jieun.ssi?”

Teguran dokter memecahkan lamunanya, dokter itu berdiri di samping jieun “apa kau bahagia?” Tanya dokter itu

Jieun terlihat bingung dengan perkataan dokter itu, dokter itu tersenyum miris “aku hanya ingin menyampaikan apa yang ingin ia tanyakan padamu” ucapnya sambil meronggoh mantel putihnya dan mengeluarkan sebuah kertas putih yang terlipat  “ini, bacalah dan kau akan tahu” jelasnya

Jieun menatap kertas itu bingung, ia mengambilnya perlahan tidak membukanya melainkan melemparkan pandangannya kearah dokter itu, dokter tersenyum dan meninggalkan jieun sendirian dikamarnya.

Jieun membuka kertas itu perlahan, entah kenapa hatinya terasa sakit saat melihat  tulisan awal yang begitu ia kenal.

Untuk putriku tercinta Park Jieun

 

Jieun ah, jieun ah, ini eomma..apa kau bisa membacanya? Ya tentu saja kau pasti bisa, bagaimana keadaanmu putriku sayang? Apa mereka merawat mu dengan baik? Kau harus makan sayuran yang dokter siap kan ya.. itu bagus untuk pertumbuhanmu.

Jieun ah, saat ini jika kita membacanya bersama alangkah bahagiannya. Tapi eomma lebih bahagia melihatmu bisa kembali membuka matamu.

Jieun ah kau percaya eomma kan? Eomma sangat menyayangimu apapun yang kau lakukan? Bagaimanpun dirimu kau tetap anak eomma.

Jangan perdulikan orang lain sayang, mereka tidak tahu apa-apa tentang mu tentang kita. Hanya eomma dan tuhan yang tahu, aku lah yang telah melahirkanmu dan membesarkanmu jadi akulah yang tahu siapa dirimu.

Sejahat apapun kau, aku percaya jieun kecilku yang lugu dan manis masih disana di dalam hatimu.

Jieun ah kenapa? Kenapa tidak pernah bilang kalau kau di jahili teman-temanmu? Kalau kau bilang, eomma akan memukuli mereka, berani sekali dia membuat putriku menangis.

Jieun ah maafkan eomma selama ini selalu menyembunyikannya, appmu.kau malu karna kau pikir kau anak haram? Tidak sayangku kau bukanlah anak haram, kau punya appa yang sangat menyayangimu sampai mati.

Eomma pernah bilang bukan, bahwa appa ada di tempat yang sangat jauh yang tidak bisa kita jangkau, tapi sekarang mungkin eomma lebih dekat dengannya.

Appamu telah berkorban banyak untuk kita berdua sayang, saat eomma melahirkanmu eomma kekurangan banyak darah dan appmulah yang memberikan semua darahnya untuk kita. Dan pada akhirnya dialah yang kehabisan darah.

Kau adalah harta yang sangat berharga yang diberikan oleh tuhan untukku, appamu menitipkan mu padaku, aku berjanji akan menjagamu apa pun yang terjadi.

Saat ini maaf eomma tidak bisa menemanimu

Maaf eomma tidak bisa merawatmu

Maaf eomma tidak bisa menjagamu lagi

Maaf , maaf sudah membuatmu merasa tertekan dengan hidup ini

………………………………………..

…………………………………………

………………………………………….

Jieun ah matamu tidak sakit kan? Eomma selalu makan sayur-sayuran jadi eomma percaya mata itu pasti sangat membantumu.

Ahh iya satu lagi, jieun ah kau harus bangga dengan nama itu JIEUN, PARK JIEUN karna nama itu pemberian dari appamu.

Dan jika nanti kita bertemu lagi hanya satu kalimat yang ku ucapkan ‘jiuen ah apa kau bahagia?’ dank au harus menjawab ‘ya!’.

Eomma dan appa mungkin bukan orang yang sempurna, tapi cinta kami kepadamu sangat luarbiasa.

Selamat tinggal sayangku, eomma akan selalu di hatimu

Salam sayang eomma.

 

 

Dokter angela yang dari tadi memperhatikan jieun dari balik pintu merasa sangat bersalah karna tidak bisa menyelamatkan ibunya.

“dokter apa anda baik-baik saja?”

Salah seorang suster yang sedari tadi menemaninya bertanya karna khawatir melihatnya, tidak biasanya dokter angela bertingkah seperti ini.

“kau tahu suster? Kumungkinan untuk nyonya park selamat memanglah sangat tipis saat itu, karna keadaannya yang melemah, tapi aku melihat pancaran sebuah kasih sayang yang sangat besar di matanya, seperti sebuah harapan, dan sekarang aku sungguh menyesal tidak bisa mempertahankan harapan itu” ucapnya tertunduk.

“nyonya park punya mata yang indah, dan sekarang mata itu ada pada anaknya, mungkin akan terasa sdikit sakit karna begitu banyak kenangan disana”

      .end.

15 pemikiran pada “[oneshoot] Her eyes

    • pengorbanan seorang emak itu emang besar yaa sayang…aku ingat mamaku waktu buat ini..iksss~

      gak tau jug kenapa, gak lihai buat yang romantis siii, jadinya anehh :p

  1. Ping balik: [oneshoot] Her eyes (via Panda House FanFiction) « More than words

  2. ak dah dijepang,. belum bisa ktemu sama ummi,. hueeee,,, chiqq,. kamu yaa suruh2 ak baca gini,. tanggung jawab,. TT_TT

    hhe.. bagus chiq ak dah baca🙂

  3. chiki nih jeleknya u chi buat ak nangis shubuh-shubuh giniiii TT______TT
    sudah ak paling ga tahan klo sudah ibu-anak, gini lagi ceritanya hueeeee TT_____TT
    bagus chi, baguuuuuus~ :’D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s