You Were Mine – First

Standar

Tittle :You Were Mine

Author : ChiQ

howdiee!! lama tak jumpa rumah panda /eluselus/ maaf panda sayangku gak bakal bisa sering kesini

chiki hanya ngepost ff yg udah lama dan belumut dan belum selesai di leppi

😀  /chu~

Perasaan gembira tergambar dengan jelas di wajah nyonya Park, Hari ini adalah hari dimana putrinya akan mengikat janji untuk hidup bersama selamanya dengan lelaki yang telah dipilihkannya untuk mendampingi putri nya itu.

Tubuh mungil putrinya dibalut gaun pengantin indah berwarna putih yang melambangkan kesucian, rambut panjangnya yang sedikit  bergelombang di biarkan terurai, membiarkan angin menerbangkannya lembut dengan sebuah tiara kecil yang menghiasi rambutnya.

“eonni—“ adik jieun memanggilnya dari balik pintu, jieun tersenyum tipis kearahnya, park nira adik satu-satunya dan juga merupakan adik kesayangan ji eun.

Nira mendekati jieun dan memeluknya dari belakang “chukkaeyo eonni” ucapnya pelan, jieun mengangguk mengiyakan. Jieun berbalik mengarah ke nira “nira_ya, dimana eomma?”

“eomma? Dia ada di depan menyapa para tamu” jelas nira, jieun tau ini merupakan hari bahagia untuk eommanya, yang mengiginkan anak tertuanya untuk segera melangkah ke jenjang pernikahan.

Secara tiba-tiba nira menarik tangan kakanya itu “kkaja eonni, yang lain sudah menunggu” sahutnya, jieun menurut dan mengikutinya, nira membantu jieun menggangkat ujung gaun yang di pakai jieun agar tidak tersangkut nantinya ketika berjalan.

**************

Seoarang laki-laki dengan jas putihnya sudah menunggu pegantinnya datang, tidak seperti pengantin pria pada dasarnya yg berseri-seri menungu calon istrinya, melainkan wajah lesu yang terlihat pasrah akan kenyataan, tidak sedikitpun kebahagian terukir di wajahnya.

Woohyun menengok kebelakang dan mendapati calon istrinya sedang menuju kearahnya di dampingi oleh ayahnya, awalnya dia terlalu malas untuk melihatnya kalau bukan karna paksaan dari orang tuanya untuk menengok sebentar,setelah itu matanya tidak bisa lepas dari calon istrinya itu, tubuhnya seperti terhipnotis akan kecantikan yang di pancarkan oleh jieun.

woohyun masih terdiam ketika ayahnya memberikan tangan jieun kerahnya, dan disanalah mereka mengikat janji untuk hidup bersama. woohyun menyematkan cincin di jari manis tangan kanan jieun, begitupun sebaliknya, di cincin itu terukirkan inisial singkatan nama mereka ‘JH’ yang seharusnya tidak pernah ada.

***************

awal pernikahan woo hyun dan jieun tidak pernah berjalan mulus, pernikahan ini bukanlah kehendak dari Jieun maupun woo hyun, mereka hanya menjadi korban dari perjodohan orang tua mereka. Tapi untuk ibu dan adiknya jieun masih bertahan.

Jieun memandang kearah jam dinding di ruang tamunya, sudah jam 12 malam tapi woohyun belum juga pulang, sudah seminggu woo hyun pulang larut malam. Perasaan cemas dan takut bergejolak di dalam pikiran jieun, cemas jika terjadi sesuatu pada woo hyun dan takut jika woo hyun melakukan hal yang tidak-tidak.

Jieun menggelengkan kepalanya cepat mencoba membuang pikiran-pikiran bodohnya itu “tidak mungkin woo hyun seperti itu” gumamnya menenangkan hatinya, jieun kembali menunggu kedatangan woohyun sambil menonton TV tapi tak satupun acara yang di tontonnya,ia tidak focus dengan apa yang dia tonton dan terus memindah chanel, pikiranya masih tertuju oleh woo hyun.

Hari semakin larut dan jieun pun tertidur di sofa, sampai akhirnya dia terbangun oleh suara mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya. ia bergegas keluar tapi yang dilihatnya bukanlah suaminya sendirian, woo hyun, wajahnya merah jas yang ia kenakan berantakan  dan di bopong oleh seorang wanita muda yang cantik dan bertubuh langsing, wanita itu memakai dress pendek sepaha yang memamerkan kejenjangan dan keindahan kakinya.

Tak satupun kalimat keluar dari mulut jieun, kalimatnya tertahan melihat itu, ji eun kembali masuk kerumah melangkahkan kakinya cepat menuju kekamarnya

Jieun mengunci kamarnya dan menyandarkan dirinya di daun pintu sambil menangis, bahunya berguncang hebat, “babo yeoja buat apa kau menangis, dia bahkan tak menghiraukan kau” rutuknya

Jieun memutar matanya mengelilingi  kamarnya dan tanpa terasa air mata sedikit demi sedikit mengalir di pipinyai. Ji eun menghapus air matanya memantapkan hatinya sebelum meninggalkan kamar nya.

Ia melangkahkan kakinya menuruni tanga satu per satu secara perlahan, bisa ia lihat bayangan sesorang dibawah.

di bawah jieun menemukan suaminya dalam keadaan telanjang dada diatas sofa di depan wanita itu, wanita asing itu membersihkan tubuh woo hyun dengan handuk basah, jieun tidak bisa berkata apa-apa dia hanya berdeham kecil.

***************

Wanita itu berbalik tapi dia tidak kaget saat meliahat jieun, wanita itu malah menghampiri jieun, memperhatikan ji eun dari atas hingga ke bawah, membuat jieun risih “kau siapa ?” tanya jieun,

“ahh iya hampir saja aku lupa memperkenalkan diriku” ucapnya, wanita itu mengulurkan tanganya di hadapan jieun “namaku kang hyomi, salam kenal” lanjutnya

Jieun tidak membalas jabatan tangan hyomi melainkan menarik handuk basah yang ada di tangan hyomi pelan, “pulanglah ini sudah malam” sahut jieun

Hyomi tercengang mendengar kata-kata jieun, “bisakah aku tetap disini sampai dia bangun?” ucap hyomi sambil menunjuk kearah woo hyun yang masih tertidur di sofa. Jieun melangkahkan kakinya menuju pintu  dan membukannya lebar-lebar “tidak! Pulanglah sangat tidak baik seorang wanita tengah malam seperti ini berkeliaran dirumah suami orang” ucapnya tegas

Hyomi makin geram diambilnya tas tangan yang dia taruh di sofa di mana woo hyun tertidur dan dengan segera meninggalkan jieun dan woo hyun

jieun menegok kearah sofa tempat woo hyun tertidur, jieun memandang wajah woo hyun yang sedang tertidur, ia membelai lembut pipi suaminya perlahan agar tidak membangunkannya, “kau harus kuat jieun, demi eomma dan juga nira” ucapnya dalam hati,  tanpa sadar airmatanya kembali jatuh dan menetes di pipi woo hyun sehingga membangunkannya.

*****************

Woo hyun tersadarkan oleh sentuhan lembut jieun di pipinya, ia berusaha membuka matanya tapi matanya terlalu berat untuk di buka. Woo hyun masih berusaha membuka matanya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya yang membuatnya bisa membuka matanya dan melihat denga jelas jieun yang sedang menagis di hadapannya.

Jieun kaget dan berusaha meninggalkan woo hyun, tapi gerakan jieun tidak lebih cepat dari gerakan woo hyun. Woo hyun terlebih dahulu menarik tangan jieun, “waegurae?” Tanya woo hyun dengan kepalanya yang masih sedikit pusing.

Jieun membelakangi woo hyun dan tidak melihat kearahnya, menyembunyikan air matanya

“jieun.ssi kau kenapa?” Tanya woo hyun semakin gusar karna jieun yang tidak kunjung menjawab pertanyaanya.

Woo hyun melihat ke arah pintu depan yang masih terbuka lebar “kenapa pintu itu tidak di tutup?”tanyanya lagi. Jieun tidak menjawab sedikitpun dan masih membelakangi woo hyun

Jieun melepas genggaman tangan woo hyun pelan “tadi kang hyomi mengantarmu pulang” jawab jieun masih membelakangi woo hyun

Woo hyun sontak kaget saat mendengar nama hyomi, dia berusaha menjawab tapi tak satupun kata yang keluar dari mulutnya.

Jieun menghapus air matanya dan membalikan tubuhnya menghadap woo hyun, kembali memasang senyuman palsu yang selalu ia perlihatkan kepada woo hyun dan keluarganya

“kau pasti capek kan, aku akan siapkan air hangat untukmu mandi” ucap jieun berlalu pergi meninggalkan woo hyun sendiri

Woo hyun menundukan kepalanya malu pada dirinya sendiri, padahal jieun sudah begitu sabar tapi dia tidak sedikitpun memberikan kebahagian untuk jieun.

*****************

Semenjak kejadian itu jieun dan woo hyun terlihat sedikit berbeda, perlahan woo hyun mulai memperhatikan jieun, sedikit demi sedikit ia merasakan hal yang berbeda pada jieun.

Perasaan ingin melindungi dan juga perasaan marah jika melihat jieun dekat dengan pria lain mulai ia rasakan, akhir-akhir ini keluarga woo hyun sering berkumpul di rumahnya, dan itu membuat woo hyun sedikit senang, karna dengan begitu jieun akan terus berada di sampingnya.

Nam Boo hyun kakak woo hyun datang bersama jieun entah dari mana, dia terus memaksa jieun untuk ikut dengannya, “ayoo cepat kau coba dulu” suruhnya sambil memberikan jieun sesuatu yang berbungkuskan plastik hitam, jieun menatap kantongan itu bingung “mm..mwoya ige?” tanyanya

Boo hyun mendorong jieun masuk kekamar mandi secara paksa “sudahlah cepat kau coba saja, kalau kau membukanya kau pasti tau nanti” ucapnya lagi

Jieun menurut dan masuk kedalam kamar mandi, dia membuka plastiknya dan terkaget ketika melihat benda yang diberikan oleh boo hyun padanya

“oppa, apa-apan ini” tanyanya kembali keluar dan membuat boo hyun kaget

Boo hyun memasukan benda itu kembali kedalam plastic dan kembali memaksa jieun untuk mencobanya di dalam, “sudah, cobalah saja dulu..eomma menyuruh ku membelikan ini untuk mu, lagipula pernikahan kalian sudah berjalan 5 bulan kan?”

Jieun tertegun dan hanya menurut ketika Boo hyun kembali memaksanya untuk mencobanya, memang sudah berjalan 5 bulan, tapi tentu saja hasilnya tidak akan memusakan, karna selama 5 bulan tidak terjadi apa-apa.

***************

Jieun keluar dengan alat testpack di tanganya, semua sudah menunggu dengan tidak sabar, wajah mereka terlihat menunggu sesuatu yang sangat hebat, jieun melihat ke arah eommanya yang menunggu jawaban dari jieun dengan wajah penuh harap yang membuatnya merasa bersalah

Jieun melemparkan pandangannya kearah woo hyun yang berdiri disamping sofa yang di duduki oleh ibunya, mata mereka bertemu, woo hyun memandang dalam kedalam mata jieun tapi jieun memalingkan pandangannya.

“jieunni..eotte??” Boo hyun membuka pembicaraan yang sempat hening

Jieun mengangkat alat di tangannya dengan tersenyum yang sengaja dibuat kecewa “negative! Mianhae”

Semuanya berubah jadi aneh, udara di ruangan itu terasa sedikit berubah campuran antara kecewa dan kesedihan, ibu woo hyun mendekati jieun menenangkannya “jieun ah mianhae, seharusnya aku tidak memaksamu kalau akhirnya seperti ini”

“gwaencana emonim, mungkin ini bukan saatnya” ucap jieun “lagipula aku ini kan dokter aku akan beritahu kalian jika ada kabar baik” sambungnya dengan senyum palsu yang terukir diwajahnya.

*************

“eomma minta maaf, jieun ah”

Jieun mengangkat kepalanya menghentikan makannya, maaf? Untuk apa eommanya minta maaf, wajah bersalah terukir jelas di raut wajah ibunya

“weagure eomma? Kenapa minta maaf?” jieun kembali meneruskan makanannya

“ini semua karna keegoisan eomma, agar kau mau menikah dengan orang yang eomma mau, dan tidak memikirkan————“

“geumanhae!” jieun memutus perkataan eommanya, ia menghela nafas panjang sambil memijat mijat kepalannya “eomma, buat apa bicara seperti itu? Kalau aku tidak suka aku pasti sudah kabur dari rumah seperti di drama-drama yang ada di tv” jelasnya diiringi dengan seringai di wajahnya

Nyonya park tersenyum bangga, ia menggengam erat tangan jieun “kau bukanlah tipe anak yang akan lari dari rumah dan meninggalkan keluargamu kan?” jieun hanya mebalasnya dengan anggukan

“jieun ah, jika kau tidak suka katakannlah jangan menyiksa dirimu demi eomma” ucap nyonya park lembut

“jika eomma bahagia, mana mungkin aku tersiksa” jelas jieun mantap “ahh..eomma ayo ku antar pulang sudah siang aku ada janji dengan pasien sebentar lagi”

***************

Jieun’s pov

iseodo baby I’m so lonely lonely lonely lonely lonely

lantunan lagu terdengar jelas dari arah kamar ku, sebuah lagu yang mencerminkan isi hatiku  sekarang, aku memandang seisi kamarku perlahan, “kamar ini terlalu besar untukku sendiri” . aku berbalik memandang kearah tembok di belakang tempat tidur , “apa ia sudah tidur?” gumamku pelan.

Pria yang sedang tertidur di kamar sebelah, pria yang menjadi suamiku

Ku gelengkan kepalaku membuang pikiran tentang woo hyun dan beranjak dari tempat tidur menuju beranda kamar, menatap bintang yang bertaburan di langit.

“yepeoda!”

Perkataan eomma kembali berputar di kepalaku, “jieun ah, jika kau tidak suka katakannlah jangan menyiksa dirimu demi eomma” aku hanya menghela nafas panjang.

“menyiksa yaa? Apa benar ini menyiksaku?”

“———————–“

“ish~ ayolah jieun, pikirkan hal yang terbaik” keluhku

Aku mengacak rambutku pelan sambil terus memandang kearah langit, hingga sebuah ketukan kecil terdengar dari pintu kamarku, “jieun.ssi kau sudah tidur?”

Woo hyun, itu dia gumamku, kulangkahkan kakiku perlahan mendekati daun pintu.

“maaf jika aku mengganggumu, ini ada titipan dari rumah sakit tadi, katannya surat dari pasien untukmu”

Aku tidak membalasnya, hanya terduduk membelakangi pintu itu. Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening, sedikit terasa penyesalan kenapa aku menolak perkataan eomma untuk bercerai. Melihat woo hyun bersama gadis lain, membuat ku merasa tidak berguna.

“jieun.ssi, aku minta maaf, seharusnya eomma tidak memaksamu untuk mencobanya saat itu, eomonim  pasti sangat——-“ ,“aaa..woo hyun.ssi gomawo” kata ku cepat sambil menarik surat dari tangan woo hyun, aku tidak ingin memperpanjang hal yang terjadi waktu itu.

“ahh ne” woo hyun terlihat salah tingkah ia tidak berani memandang ku dan hanya menunduk, aku sedikit menunduk untuk melihatnya wajahnya yang terlihat aneh, apa dia sakit?  “gwaencana? Ommo! Lihat wajahmu merah sekali woo hyun.ssi, apa kau sakit?” ku taruh tanganku di dahinya dan dengan cepat woo hyun menjauhkan tanganku darinya

Ia perlahan mundur menjauhiku “a..ani gwaencana? Aku baik-baik saja jieun.ssi” jawabnya gugup

Aku memandangnya sendu, tentu saja woo hyun tidak menginginkan ku,  dia begitu sempurna, dan kang hyomi dia juga sempurna mereka pasangan yang cocok. Aku menunduk membereskan beberapa surat yang berjatuhan dari tanganku “jieun.ssi apa kau ingin memiliki anak?”

________

Hening, tidak terdengar sedikitpun suara dari kami berdua, woo hyun masih berdiri di depanku dan aku berjongkok terdiam, pandangan ku tidak focus kearah surat yang tadi aku beresakan

Aku berusaha tenang dan berdiri perlahan, memandang kearahnya “mwoya?”

Woo hyun terlihat bingung, iya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal dengan wajah yang kemerahan, “aahh itu—ng—“ aku mengernyitkan alisku bingung, ku lipat kedua tanganku di depan dada “woo hyun.ssi ada apa sebenarnya?” tanyaku.

Woo hyun masih tertunduk tidak menatapku, entah apa yang ada di pikiranku tapi aku teringat kejadian malam itu, wajah bingungku perlahan menjadi kekecewaan “apa ini karnanya?” tanyaku, dengan nada yg sedikit rendah

“ne? karna siapa?” woo hyun balik bertanya, kali ini dia mengangkat kepalanya berbalik memandangku aneh.

Aku kembali berjongkok merapikan surat-surat milikku “dia, kang hyomi” ucapku

“mwoya? Kang hyomi? Aniya..apa hubungannya dengannya?” tanyanya balik.

Ku angkat kepalaku mengadah keatas menatapnya “tentu saja ada, bawalah dia kekantorku, aku akan memastikan bayinya sehat agar orang tua kita berfikir bahwa itu anak kita” jawabku pasti.

Woo hyun menghela nafas singkat “bayi?” tanyanya, ia menggelengkan kepalanya

“aaa jadi kau pikir kang hyomi dia—- heishh” kalimat woo hyun menggantung, iya mengacak-acak rambutnya cepat dan berjongkok mensejajarkan dirinya denganku.

Ia membantuku merapikan surat-surat yang berserakan di lantai, aku menatapnya bingung, “woo hyun.ssi!” panggilku, tapi ia tidak bergeming masih asik membereskan surat milikku.

Ia menyusunnya rapi, dan menarik tanganku menaruh tumpukan surat itu di tanganku “park jieun.ssi— “ panggilnya, “ah aniya” ia menggelengkan kepalanya dan menatap lurus kearahku, pancaran bola matanya terlihat berbeda, tidak seperti biasanya “ jieun,ah bisakah aku punya anak darimu?” lanjutnya cepat.

Sontak mataku membesar mendengarnya, mulutku sedkit terbuka tidak percaya “mwo..mworago?” tanyaku pelan

Ia mendekatkan wajahnya kerahku “wae? Apa itu tidak boleh? Kau ini istriku dan aku suamimu, bukankah itu hal yg wajar, aku harus punya penerus yang bisa meneruskan perusahaanku nantinya” ucapnya cepat, tanpa membiarkanku sedikit saja mencelanya.

Ia mengambil kembali tumpukan surat di tanganku dan menaruhnya di lantai, sedikit demi sedikit ia menggenggam kedua tanganku erat, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, dua tangan yg besar menggengam kedua tanganku yang begitu kecil dengan eratnya.

“jieun,ah”

Woo hyun perlahan mendekatiku, mendekatkan bibirnya di samping telingaku dan mengendus pelan, “ternyata itu kau, dari tadi aku mencium wangi yang sangat enak dan teryata itu kau” ucapnya

Aku berusaha menjauhka diriku darinya, tapi percuma tenaganya terlalu kuat menahanku

“jieun,ah kau harus bersiap jika saatnya sudah datang” bisiknya padaku

Reflek aku menarik kedua tanganku dan menjauh meninggalkannya dan setumpuk surat itu masuk kedalam kamarku.

***********

Jieun bergegas masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan woo hyun yg masih ada di depan pintu kamarnya, wajahnya memerah tanpa sadar ia sudah terduduk lesu di balik pintu kamarnya, ia masih tidak percaya dengan apa yg dikatakan oleh woo hyun

Tiba-tiba suara ketukan di pintu jieun terdengar “tok!tok! jieun ah kau sudah tidur?” Tanya woo hyun dari balik pintu, jieun tidak menjawabnya melainkan merangkul kuat kedua lututnya yg lemas “ahh kau pasti sudah tidur, tidurlah yang nyenyak” lanjut woo hyun, dan perlahan terdengar suara langkah kaki yg menjauh dari kamar jieun

Jieun mengangkat kepalanya, nafasnya tidak teratur, kalimat woo hyun terus berputar di kepalanya, membuatnya panic sendiri, haruskah dia bahagia atau tidak?

-to be continued-

Satu pemikiran pada “You Were Mine – First

  1. apa blog ini udah ga akan update lagi ato gimana???
    sebelumnya mianhae aku sok tau.
    cerita menarik beneran, tapi masih ada typo.
    “mwoya ige?” ato “ige mwoya?” mana nih yg bener??

    sekian *deep bow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s