Let It Go [oneshoot]

Standar

 

Title : Let It Go

Author : chiq

picre : google😄 (sorry I forget)

 

Aku berusaha semampuku untuk mu, agar airmata itu berubah menjadi sebuah senyuman, yang dulu sering kau tampakkan.Untukmu yang selalu menjagaku, merawatku hingga seperti ini, Terima kasih.

 

**************

 

Anak mana yang tidak sedih melihat ibunya menangis karna masalah ekonomi dan keluarga.

 “appamu berubah”

Hanya itu yang kau katakan padaku, kau masuk menelusuri kamarku, bersandar di dinding dengan wajah penuh penyesalan.

                “eomma —–”

 aku ingin bertanya tapi apa aku sanggup untuk itu? Kenyataan yang ku alami 3 tahun yang lalu, keluarga kita hampir hancur, aku berusaha mempertahankannya dengan sekuat tenaga.

Kau berbalik melangkah mendekatiku

               “jieun ah, jika memang harus berpisah, siapa yang akan kau pilih?”

pertanyaan itu pertanyaan yang sama dengan 3 tahun yang lalu, ikut siapa? Aku ingin kalian berdua.

                “appamu sudah sangat berubah, dan eomma dapat merasakannya”

Keluhan yang sama dengan yang dulu,

                “jika memang dia sudah tidak mencintai eomma, kenapa tidak bilang saja dan tinggalkan eomma, itu lebih baik daripada dia harus menyiksa batin eomma dirumah”

perlahan air matamu kembali jatuh, ingin rasanya aku menghapusnya dan menenagkanmu, tapi tubuhku seakan tidak bisa bergerak.

                “eomma tidak pernah mengeluh padanya akan ini itu, eomma hanya ingin kau, adikmu, dan dia bahagia, itu sudah cukup untukku”

 suara lembutmu perlahan menjadi parau.

                “jika itu terjadi, kau mau ikut eomma kan?” kau berbalik menghadapku, menatapku penuh harap.

                “kau dan nira satu-satunya harta eomma yang tersisa” kau menitikan air matamu untuk yang sekian kalinya. Kumohon berhentilah menagis seperti itu, pikirkan juga perasaanku saat ini.

Aku terus berusaha menahan air mataku, tidak ingin menangis, tiga tahun yang lalu aku menangis tiada henti, tenagaku habis karnanya.

Sekarang aku berusaha keras untuk membahagiakan mu, bekerja keras untukmu agar kau kembali tersenyum, tapi yang kudapat hanya tetesan air mata lagi.

                “eomma! Jika harus memilih aku tidak ingin memilih keduanya, aku tidak ingin memilihmu ataupun appa, aku ingin kalian berdua”

Kau beranjak dari dudukmu, menatap lurus kedepanmu dengan pasti, kau hapus air mata yang menggenang di pipimu, dan tanpa menoleh kearahku kau tersenyum miris.

                 “tapi itu tidak mungkin sayang” ucapmu berlalu dari hadapanku.

Apa ini yang kudapat atas semua kerja kerasku mempertahankan keluarga kita? Tiga tahun aku berusaha membahagiakan kalian, bekerja keras, agar tidak ada kekurangan untuk kita, bekerja keras agar tidak ada lagi celah yang bisa memcahkan kita.

Air mataku akhirnya jatuh, membayang kan jika tanpanya apa yang bisa kulakukan?. Tiada lagi kah harapan untukku kembali mengulang masa-masa yang lalu, ketika aku masih di gendonganmu, tubuh mungilku yang tidak berdaya yang selalu kalian manjakan, akankah berakhir secepat ini?  kalian begitu kubangakan hinga sekarang. Hanya sampai disini kah semua usahaku?

Aku berlari keluar dari kamarku, menyusul dirimu yang sudah siap dengan tasmu yang mungkin isinya adalah bajumu, aku memelukmu erat tidak ingin kau tinggalkan

                “sedikit lagi, kumohon tunggu sedikit lagi, aku akan lebih berusaha lagi”

kau memaksaku melepaskan pelukanku tapi dengan cepat aku kembali memelukmu.

                “eomma jebal, beri aku waktu, jika sudah saatnya kita akan pergi bersama, aku akan mencari kerja yang lebih untukmu, kita pergi bersama dan membangun keluarga yang baru bersama, jebal eomma”

aku mengeratkan pelukanku sekuatnya, berharap kau mau mendengarkanku

Kau berbalik menghadapku, balik memelukku dengan pelukan hangatmu

                “baiklah kita akan memulai hidup yang baru bersama, tapi eomma tidak akan menunggu disini, tempat ini tidak seindah dulu lagi, rumah ini terasa seperti neraka sekarang”

 kau menunduk mengangkat kepalaku, bukan sebuah harapan yang ku dapat melainkan keputus asaan

                “untuk sementara eomma titip adikmu, eomma akan menunggumu sayang, eomma sayang kau”

kau mencium keningku dan pergi meninggalkanku, aku yang terduduk lesu menatap punggungmu yang perlahan menghilang meninggalkanku.

Aku kembali menangisi semuanya, kejadian 3 tahun yang lalu saat aku berusaha menahan appa meninggalkan kami terulang lagi, saat itu aku berhasil menahannya, dan membuka kembali lembaran baru.

Tapi kali ini aku gagal, aku tidak bisa mempertahankan keluargaku lagi. Aku gagal sebagai seorang anak.

 

 

 

-fin-

 

4 pemikiran pada “Let It Go [oneshoot]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s